Di masjid komplek Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Dusun Kebonrejo Desa Genteng Wetan Kecamatan Genteng, Banyuwangi ini menunjukkan perbedaannya. Perbedaan itu bukan pada tata cara atau syariat pelaksanaan salatnya. Melainkan kehadiran Al-Quran berukuran raksasa di depan imam dan jamaah salat tarawih.
Al-Quran raksasa itu sengaja diletakkan tepat di hadapan imam saat memimpin salat. Itu dilakukan karena ayat di dalam Al-Quran itu dibaca sang imam saat salat tarawih. Tiap usai salam penutup salat, lembaran Al-Quran di balik ke halaman berikutnya oleh petugas salah satu santri. Dan selanjutnya, si imam membaca kembali lembaran yang dibuka oleh santri saat tarawih berikutnya.
Lembaran demi lembaran itu dibuka hingga mencapai satu juz tiap satu rangkaian salat tarawih tiap malamnya. Praktis, selain menggelar salat tarawih, sekaligus mengkhatamkam (menamatkan) Al-Quran yang berjumlah 30 juz. Al-Quran raksasa itu memiliki tinggi seleher orang dewasa dan biasa disebut Al-Quran ayat pojok.
Al Quran raksasa ini dibaca saat salat tarawih terinspirasi saat salat di Masjidil Haram dan Masjid Nawabi, Saudi Arabia. Para imam membaca seluruh surat Al-Quran di tiap rangkaian salat tarawih.
"Di sini kan belum ada yang hafal Al-Quran, jadi kami pake Al-Quran raksasa itu saat salat tarawih," jelas pengasuh Ponpes Bustanul Makmur, KH. Muwafi Amirsaat ditemui detiksurabaya.com seusai salat tarawih, Senin (31/8/2009) malam.
Kebiasaan salat tarawih itu sudah berlangsung 7 tahun lamanya, persis usia Al-Quran raksasa usai disusun (tulis ulang) oleh Abdul Karim, salah seorang santri Ponpes Bustanul Makmur.
Dia mengaku, Al-Quran raksasa ini memiliki juga memiliki ciri khas. Di tiap pojok kiri halaman selalu mengakhiri ayat-ayatnya.
"Akhir ayat ditiap suratnya persis dipojok halaman, makanya disebut juga Al-Quran ayat pojok," jelas salah seorang santri, sambil menunjuk tanda akhir ayat dari sebuah surat Al-Quran. (fat/fat)










































