Pantauan detiksurabaya.com, di sejumlah TPU berukuran besar, seperti di Kelurahan Ngadirejo, Burengan dan Tosaren, Kecamatan Kota serta Kelurahan Lirboyo dan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, tak kurang 15 anak di setiap TPU menjadi pembersih makam. Mereka biasanya bergerombol di pintu masuk TPU dan menawarkan jasanya ke setiap peziarah yang datang.
Andik Setiawan, bocah berusia 11 tahun yang duduk di kelas VII SMP Negeri di Kota Kediri mengaku, pekerjaan itu dilakukannya sekedar untuk menambah uang jajan yang telah diberikan oleh orangtuanya.
"Kalau sangu (uang saku) sebenarnya sudah ada, tapi kan lumayan kalau bisa dapat tambah," ujar Andik polos saat ditemui detiksurabaya.com di TPU Kelurahan Ngadirejo, Kamis (20/8/2009)
Hal senada diungkapkanĀ Gunawan, bocah berusia 12 tahun yang juga menjadi pembersih makam. Menurutnya, pekerjaan itu dilakukan tak lebih dari sekedar bersenang-senang. "Kebetulan semua kan melakukan, ya saya ikut-ikutan," ujarnya enteng.
Untuk setiap pekerjaan yang dilakukan bocah-bocah, mereka tidak mematok ongkos yang hars dibayarkan peziarah. Berapa pun yang diberikan, mereka akan menerimanya dengan lapang dada.
"Tapi biasanya orang-orang sudah tahu. Minimal dari seorang peziarah saya bisa dapat 5 ribu dan dalam sehari biasanya akan terkumpul 30 sampai 50 ribu," ungkap Gunawan.
Ditanya jam sekolah yang harus dijalani, bocah-bocah itu mengaku dapat mensiasatinya. Rata-rata mereka adalan anak-anak yang sekolah dengan jam belajar siang hari.
"Biasanya saling tukar. Kalau yang masuk siang ya pagi disini, kalau masuknya pagi ya siang sampe sore giliran di sini," kata Dwi Hartanto (12), bocah pembersih makam lainnya.
Secara terpisah Hardjo Dwidjojo (72), juru kunci di TPU Kelurahan Ngadirejo justru mengaku senang keberadaan bocah-bocah pembersih makam. Dia tidak merasa tersaingi untuk urusan mendapatkan rejeki dari peziarah.
"Menawai kadhos kulo kan sampun sepuh, nggih mboten saget menawai kedah balapan kalian lare-lare meniko. Lagian gusti nggih boten sare, buktine taseh wonten mawon tiyang nyekar ingkang mbutuhaken kulo. (Kalau seperti saya kan sudah tua, ya tidak mungkin kalau harus bersaing dengan anak-anak itu. Apalagi tuhan juga tidak tidur, buktinya masih ada saja peziarah yang membutuhkan saya)," ungkap Hardjo lirih.
Kegiatan ziarah ke makam leluhur, diakui Hardjo biasanya akan berlangsung selama ramadan dan mencapi puncaknya sehari sebelum lebaran. Pada saat itu pula bocah-bocah pembersih makam akan terus ada dan biasanya akan terus bertambah jumlahnya.
(fat/fat)











































