Budaya Mengemis Mulai Meluas di Sumenep

Budaya Mengemis Mulai Meluas di Sumenep

- detikNews
Kamis, 20 Agu 2009 10:17 WIB
Budaya Mengemis Mulai Meluas di Sumenep
Sumenep - Profesi pengemis sepertinya bukan hal yang memalukan bagi sebagian warga Kabupaten Sumenep, Madura. Budaya mengemis yang sukses dijalani oleh warga Desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan itu mulai diikuti oleh warga desa tetangga.

Pengemis yang berkeliaran di sejumlah tempat, termasuk di wilayah Sumenep sendiri ternyata berasal dari desa berbatasan langsung dengan desa pengemis. Seperti dari Desa Jaddung, Pragaan Laok, Prenduan dan Desa/Kecamatan Guluk-Guluk.

Warga desa tetanga tersebut mulai menjalankan aksinya sebagai peminta-minta sudah berjalan sejak 5 tahun terakhir. Hasilnya, juga mulai tampak. Tidak hanya kebutuhan hidup sehari-hari, uang itu mampu untuk membeli barang-barang berharga lainnya hingga membangun rumah.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan Sumenep, K Abrori Mannan mengatakan, profesi pengemis mulai banyak digemari orang. Baik dari kalangan tidak mampu maupun kalangan warga yang kelas ekonominya tergolong cukup.

"Profesi pengemis itu, mulai disandang warga desa lain berbatasan langsung dengan Desa Pragaan Daya yang selama ini disebut-sebut sebagai kampung pengemis," terang Abrori kepada detiksurabaya.com di rumahnya Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan Sumenep, Kamis (20/8/2009).

Dia juga calon legislatif (Caleg) terpilih periode 5 tahun ke depan ini menjelaskan, warga di sekitar desa pengemis itu pendidikannya relatif rendah dan menganut budaya 'Latah' atau ikut-ikutan tanpa memikirkan dampak dan pandangan Islam yang melarang.

"Karena banyak yang sukses dengan mengemis, maka mereka ikut mengemis. Selain tidak harus modal, risikonya juga dinilai relatif kecil," ungkapnya.

Lebih ironis lagi, bagi kawula muda yang mempersunting perempuan Desa Pragaan Daya dan belum mempunyai pekerjaan tetap juga akan ikut menjadi pengemis. Mereka sepertinya sudah nyaman dan tidak memiliki beban sama sekali dengan profesi pengemis.

Sebagai tokoh masyarakat setempat yang akan duduk di kursi legislatif tingkat kabupaten, dia bakal memutus mata rantai budaya mengemis tersebut, sebab untuk menghentikan warga menjadi pengemis sudah tidak mungkin dilakukan.

"Kalau saya harus berteriak lantang para pengemis harus berhenti, maka akan jadi musuh besar mereka. Lebih baik buatkan program bagi kader-kader mudanya agar tidak melakukan hal serupa seperti yang sudah dijalani orang tuanya," paparnya. (fat/fat)
Berita Terkait