Meski menggelar upacara sederhana di waduk kering, tak mengurangi semangat para petani. Semua perangkat upacara, mulai dari inspektur upacara sampai pengibar bendera mereka bentuk dan disiapkan dengan rapi.
Dari pantauan detiksurabaya.com, tampak para petani tidak memakai seragam dan hanya berpakaian sederhana seperti saat pergi ke sawah. Para petani ini juga masih membawa alat-alat pertanian, seperti cangkul dan sabit selama upacara.
Mereka juga mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Baik pengibar bendera, pemimpin upacara, pembacaan naskah proklamasi, para petani tampak berpakaian ala kadarnya.
Salah seorang petani yang ikut upacara bendera, Nanang mengaku upacara ini digelar selain memperingati kemerdekaan RI, juga sebagai pengingat akan nasib kaum tani yang hingga kini masih belum sepenuhnya bisa merasakan makna kemerdekaan. "Lihat saja, waduk tempat kami menggelar upacara ini sudah kering, padahal kami sangat membutuhkan air untuk sawah kami," tandasnya.
Para petani, tegas Nanang, ingin mengingatkan kepada pemerintah bahwa nasib petani di Indonesia hingga kini masih tetap tidak lebih baik. Nanang mencontohkan, bagaimana nasib petani saat ini di tengah kelangkaan pupuk yang terjadi. "Kami juga ingin menikmati kemerdekaan," ujarnya.
Bahkan agar upacara bendera dan jeritan para petani ini langsung didengar, para petani juga mengundang anggota DPRD Kabupaten Lamongan dan anggota DPRD provinsi ikut upacara bendera ala petani ini. Dua anggota DPRD ikut dalam upacara bendera ala petani ini.
"Kami juga ingin mengingatkan pemerintah bahwa nasib para petani masih jauh dari enak," ujar Suhandoyo, salah seorang anggota DPRD Provinsi Jatim yang hadir dalam upacara.
(fat/fat)











































