Kejadian itu terjadi di rumah temannya di Desa Brongkos, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar pukul 20.30 WIB, Kamis (6/8/2009).
Menurut Kanit Pelayanan Pengaduan dan Penegak Disiplin (P3D) Polres Blitar, Aiptu Edi Sumartono saat kejadian Sucipto tidak sedang berdinas. Sucipto sedang berkunjung ke rumah temannya.
"Ketika akan pulang, dia (Sucipto, red) berdiri dan mengenakan jaketnya. Tiba-tiba pistol yang disimpan dalam sarungnya di bagian dada meletus. Kemungkinan tersangkut jaket atau sarungnya," kata Edi kepada detiksurabaya di kantornya.
Senpi jenis pistol Colt melukai perut bagian kiri Sucipto. Korban langsung roboh dan dilarikan ke Puskesmas Kesamben. Karena keterbatasan peralatan Sucipto dilarikan ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
Dia mengungkapkan pistol jenis Colt yang pelurunya terpasang dalam revolver tidak ada pengunci atau pengamannya, jadi peluru pada urutan pertama yang ditembakkan adalah peluru karet. "Meskipun tidak ada proyektilnya, tapi jika ditembakkan pada jarak dekat bisa mengakibatkan luka," jelasnya.
Kini pihak P3D sedang melakukan penyelidikan, mencari apakah ada unsur kelalaian atau kesengajaan dalam kejadian itu. "Kalau melihat kondisi sarung senpi memang ada bagian yang sobek, kemungkinan inilah yang menyangkut pelatuk sehingga meletus," ungkapnya.
Sucipto saat ini dirawat di paviliun 2 RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Kondisinya sudah membaik tapi belum diperbolehkan pulang oleh tim dokter. Luka akibat tembakan peluru karet hanya mengakibat luka ringan dan tidak sampai menembus perutnya.
"Tidak perlu dilakukan operasi, tapi akibat luka perutnya masih memar dan terasa sakit jadi masih terus dirawat," pungkas Humas RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Wiwin Dwi Sulanjari. (wln/wln)











































