Beberapa hari ini terakhir ini warga didua desa tersebut resah karena banteng liar tersebut masuk ke pemukiman warga.
Banteng liar jantan tersebut masuk ke pemukiman sejak Jumat (31/7/2009) lalu. Banteng tersebut masuk melalui sisi barat desa yang berbatasan dengan wilayah hutan lindung dan Taman Nasional Meru Betiri. Warga memperkira hewan tersebut berasal kawasan tersebut.
Karena hewan liar tersebut aktivitas warga terganggu. Petani di dua desa itu tidak berani pergi ke ladang ataupun sawah. Mereka takut menjadi sasaran amukan hewan tersebut. Ketakutan ini dikarenakan dua orang menjadi korban keganasan binatang itu, yaitu Saiful Yusuf (2) warga Desa Senepo Sepi.
Korban tersenggol badan banteng yang sedang berlari ke arah pemukiman. Saat itu Saiful digendong kakaknya Vina Izakul Umami (10). Keduanya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka. Bahkan Vina tidak sadarkan diri selama dua hari.
Mengantisipasi keadaan tersebut, petugas dari KSDA Jatim, Balai Taman Nasional Meru Betiri, Balai Taman Nasional Alas Purwo disiagakan di sekitar pemukiman penduduk. Petugas mensterilkan dua desa. Warga luar desa setempat sementara ini dilarang masuk hingga hewan liar tersebut ditangkap.
Perangkap besi dirancang khusus menangkap hewan itu dan ditempatkan di titik yang diduga sebagai tempat tidur hewan liar tersebut. Namun hingga dua hari petugas berada di dua desa itu, banteng tidak tampak.
"Petugas taman safari sudah dua malam disini dan memasang perangkap untuk menangkap hewan itu.Banteng masuk lewat sisi barat Desa," kata Petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Hayati Rusdi kepada detiksurabaya di pintu masuk kedua desa tersebut, Senin (3/8/2009).
Banteng masuk ke pemukiman warga bukan pertama kali terjadi. Satu tahun yang lalu banteng pernah mengacak-acak dua rumah dan melukai seorang warga. Banteng masuk ke perumahan penduduk dikarenakan kawasan hutan yang gundul serta semakin sempit wilayah habitatnya. (wln/wln)











































