Ancaman peledakan tersebut petama kali diterima oleh anggota Satuan Pengamanan (Satpam) yang bernama Wage (34), pada pukul 14.30 WIB. Penelpon masuk ke saluran telepon di pos penjagaan dan mengaku bernama Ibu Salma, Direksi PTPN X yang berkantor di Surabaya.
"Saat pertama kali masuk yang ditanyakan apakah ada karyawan PG Pesantren yang menikah dengan karyawan PG Ngadirejo. Setelah saya jawab tidak, dia justru mengatakan jika bagian ketel dan mesin di belakang akan segera meledak," jelas Wage, saat ditemui wartawan di pos penjagaan.
Sebelum mengakhiri ancaman yang disampaikannya, penelpon diakui juga oleh Wage, sempat memperingatkan agar jangan sampai kejadian di Bondowoso terulang di Kota Kediri. "Sebenarnya saya sempat berfikir di Bondowoso kan nggak ada kejadian apa-apa, dan saya anggap ini orang iseng. Tapi karena takut ada apa-apa, saya segera berkoordinasi dengan komandan jaga," ujarnya.
Dari koordinasi yang dilakukan, pihak pengamanan PG Pesantren Baru langsung melaporkan adanya ancaman peledakan tersebut ke Mapolresta Kediri. Koordinasi lanjutan langsung dilakukan dengan Tim Penjinak Bom (Jibom) Kompi 1 Detasemen C Satuan Brimob Jawa Timur, dan hingga berakhirnya proses penyisiran pada pukul 19.20 WIB ancaman peledakan tersebut tidak terbukti.
"Bisa dihitung berapa lama kami di sini dan melakukan penyisiran, tapi hasilnya tidak ada apa-apa," kata Kapolresta Kediri AKBP Rastra Gunawan di lokasi kejadian.
Ditanya megenai motif yang mendasari munculnya ancaman bom tersebut, Rastra menganggapnya hanya pekerjaan orang iseng. Meski demikian kewaspadaan dan proses penyelidikan akan tetap dilakukannya dengan berkoordinasi dengan PT Telkom.
"Sekarang kan memang marak orang ngancam bom dimana-mana, tapi sejauh ini itu semua kan belum ada buktinya. Tapi penyelidikan tetap wajib kami lakukan, dan karena ancaman datang melalui telepon kantor, kita akan mencoba mengungkapnya dengan melihat print out nomor telepon itu," papar Rastra.
(bdh/bdh)











































