Ritual Keduk Beji digelar tiap tahun setiap hari Selasa kliwon antara bulan 7 hingga bulan ke 10. Dalam ritual tersebut warga juga menikmati daging kambing yang dibakar. Kambing tersebut bukan sembarang kambing melainkan kambing jenis kendit alias memiliki sabuk putih di perut.
Selain menguras sumber air, warga juga berebut dua buceng yang berisi nasi dan lauk pauk yang dilarungkan ke sumber air tersebut.
"Ritualnya keduk beji, artinya menguras air yang ada di sumber sambil mengambil lumpur berwarna putih. Lumpur itu bisa berbusa dari sumber untuk diusapkan ke kepala serta wajah yang dipercaya biar awet muda," kata Kades Tawun Suryo Wirawan kepada wartawan, Selasa (21/7/2009).
Ketika menguras sumber air, warga tidak boleh sembarangan. Dua orang juru selam disiapkan untuk mengambil lumpur yang ada di sumber air tersebut. Dua juru selam adalah warga yang mengikuti ritual tersebut harus menggunakan 2 juru selam.
Dua juru selam itu Mbah Wopomo (60) dan keponakannya Patut (30). Mbah Wopomo mengungkapkan dirinya menyelam sejak usia muda. Keahliannya tersebut dia dapatkan dari orangtuanya.
"Saya bertugas juru selamnya sudah temurun puluhan tahun dari bapak, dan saya juga mengajak keponakan," tutur Mbah Pomo.
Sementara Wakil Bupati Ngawi Budi Sulistiono yang hadir dalam acara tersebut mengaku jika ritual tersebut tidak akan dihilangkan dan tetap akan dilestarikan.
"Keduk Beji merupakan budaya Kota Ngawi utamanya warga Desa Tawun untuk tolak balak dan membawa rezeki yang melimpah ke depannya," tandasnya.
(wln/fat)











































