Sampai saat ini Balai TNTBS masih mengacu pada status Gunung Semeru pada Siaga III. "Kami belum tahu soal adanya penurunan status dari Gunung Semeru, karena belum terima surat dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi," kata Humas Balai TNBTS Nova Elina kepada detiksurabaya.com melalui telpon gengamnya, Sabtu (18/7/2009).
Menurut Nova, bila ada perubahan status dari siaga menjadi waspada pastinya akan ada perubahan dari rute kunjungan wisatawan yang ingin pendaki ke puncak gunung. Karena dalam status sekarang ini rute pendakian hanya sampai titik Kalimati saja.
"Setelah kami dapat laporan itu, maka kami akan mengajukan rekomendasi jalur pendakian melihat statusnya turun," ungkapnya.
Nova menambahkan, kemungkinan surat penurunan status Gunung Semeru akan diterima pihaknya Senin besok.
Sementara seperti dilansir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terhitung sejak 16 Juli 2009 tepat pukul 18.00 WIB status Gunung Semeru mengalami perubahan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II).
Setelah melihat hasil pantauan visual, kegempaan dan analisis data hingga 30 Juni 2009. Sejak status siaga jumlah gempa letusan rata-rata setiap harinya terus menurun. Diduga adanya penurunan jumlah letusan tersebut kemungkinan suplay energi berkurang.
Hal tersebut juga terlihat dengan tidak terekamnya genpa tremor harmonik. Pada saat jumlah letusan rata-rata mencapai 100 kejadian per hari. Maka gempa tremor harmonik rata-rata mencapai 5 kali kejadian per hari. Sementara juga secara visual tidak lagi teramati adanya sianr api yang menunjukkan pertumbuhan kubah lava.
Sebelumnya, status Gunung Semeru meningkat menjadi Siaga Level III sejak akhir 2008. Setelah melihat peningkatan aktifitas gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dengan terjadinya gempa sebanyak 432 dengan kisaran 80-100 per harinya.
(fat/fat)











































