Kajian itu diperlukan untuk mengetahui penyebab ambles dan semburan baru yang hari ini makin membesar. Tim yang diturunkan ke Siring Barat yakni dari Universitas Airlangga dan ITS Surabaya.
"BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) bekerja berdasarkan fakta, tapi saya tidak sebagai kapasitas anggota dewan pengarah BPLS," ucap Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar yang juga sebagai anggota dewan pengarah BPLS kepada wartawan di ITS, Jalan Keputih, Surabaya, Rabu (15/7/2009).
Rachmat menjelaskan ia tidak bisa mengungkapkan tindakan yang akan dilakukan karena masih menunggu hasil kajian akademisi. Hasil kajian itu akan dirapatkan untuk mengambil keputusan berikutnya.
"Saya tidak bisa memberikan keterangan, karena saya berbicara di sini sebagai Menteri LH," ucapnya.
Ia tidak bisa mengungkapkan keputusan yang akan diambil setelah nanti ada hasil kajian akademisi. Pasalnya ia tidak punya kewenangan di BPLS.
"Kalau tanya BPLS sebaiknya tanya ketua atau sekretaris dan di BPLS ada 32 kementerian yang terlibat," tegasnya.
Namun sebagai langkah cepat untuk menghindari korban jiwa, pemerintah telah mengungsikan masyarakat di daerah sekitar. Sedangkan saat ditanya penyebab semburan baru itu, Rachmat menyatakan masih misteri.
"Sama misterinya dengan pusat semburan. Kita tidak pernah tahu yang ada di dalam perut bumi. Bisa jadi lubangnya sama di Cepu," ucapnya.
(bdh/bdh)










































