Para napi terlihat cukup antusias. Mereka menyontreng di 3 tempat pemungutan suara (TPS). Dua TPS didirikan di dalam rutan dan satu TPS berada di luar bangunan rutan di dekat rumah dinas petugas rutan.
Tapi tidak semua napi bisa menggunakan hak pilihnya. Sebagian sudah pindah atau sudah bebas. Dan ada juga yang tidak mempunyai surat A7 atau surat pindah. Dari 1.061 pemilih hanya 40 persen tahanan dan napi.
"Selain mepetnya penerimaan DPT yang baru kita terima tanggal 5, pihak KPU Sidoarjo tidak memperbolehkan penggunaan surat penahanan atau vonis pada saat menggunakan hak pilih," kata Kepala Rutan Prihantara kepada wartawan.
Sementara 61 napi perempuan menyontreng di TPS 16 dengan pengawalan ketat. Karena TPS yang ada dalam rutan masih dipenuhi oleh tahanan lainnya. "Karena keterbatasan tempat 61 tahanan wanita kita lakukan pengawalan ketat menyontreng di luar rutan di TPS 16," ungkapnya.
Pantauan detiksurabaya.com para napi terlihat antusias menggunakan hak pilihnya. Dua TPS yang ada di dalam rutan dipenuhi oleh para napi. Mereka terlihat antre saat ingin menyontreng memilih pemimpin Indonesia 5 tahun ke depan.
Hingga Pukul 10.30 WIB, jumlah pemilih di dua TPS hampir 50 persen. TPS 17 berjumlah 138 orang dan TPS 18 berjumlah 126 orang napi yang telah menyontreng.
"Antusiasme para tahanan sejak dibukanya TPS sangat tinggi. Meski para tahanan tidak semuanya bisa menggunakan hak pilih," tutur petugas KPPS. (wln/fat)











































