20 Kantong darah terinfeksi penyakit berbahaya itu diantaranya virus HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan VDRL atau penyakit kelamin seperti spilis.
Menurut Pelaksana Tugas (plt) Kepala UTDC PMI Malang dr Lely Rachmawati menuturkan, pihaknya melakukan pemusnahan dari temuan kantong darah terinveksi penyakit berbahaya tersebut.
"Kami musnahkan bersama dengan limbah medis rumah sakit," kata dr Lely Rachmawati saat ditemui di Kantor UTDC PMI Malang Jalan Panji, Kepanjen, Malang, Selasa (30/6/2009).
Lely memastikan, saat ini stok darah yang ada di Malang aman dari ancaman penyakit berbahaya. Sebab selama ini dilakukan pendataan berulang-ulang. "Stok darah yang kami miliki aman dari tertular berbagai penyakit," imbuhnya.
Lely menambahkan, stok darah di PMI Malang menipis. Bahkan, persediaan darah hanya tersedia golongan darah A sebanyak 4 pack, masing-masing berisi 250 cc, golongan darah B sebanyak 37 pack, golongan darah O sebanyak 22 pack dan golongan darah AB sebanyak 8 pack.
Dengan stok terbatas, menurut Lely, sangat mengkhawatirkan. Meski dalam sehari idealnya tersedia 30 sampai 40 kantong darah. "Stok darah A dan O kini menipis. Mengingat banyaknya permintaan darah untuk wilayah Blitar, Tulungagung dan Malang Raya," imbuhnya.
Sejauh ini, lanjut Lely, PMI Malang berusaha mempertahankan harga pengganti darah sebesar Rp 90 ribu dan Rp 130 ribu. "Mengatasi kekurangan biaya untuk mengganti mahalnya pembelian reagent, maka PMI sudah mengajukan surat kepada Bupati Malang Sujud Pribadi, terkait kenaikan tarif service cost sebesar Rp 200 ribu-Rp 250 ribu," terangnya. (fat/fat)











































