Kericuhan terjadi setelah ratusan massa anti tambang mengikuti acara tersebut menolak sosialisasi yang dianggap berubah menjadi ajang 'suap'. Kericuhan terjadi saat PT IMN secara simbolis menyerahkan bantuan uang sebesar Rp 211.230.000 juta ke 5 desa.
Ke-5 desa itu yakni Desa Sumbermulyo, Desa Pesanggaran, Desa Kandangan, Desa Sumberagung dan Desa Sarongan. Bantuan itu diserahkan melalui kepala desa masing-masing dengan besaran uang bervariasi.
Tanpa dikomando, warga langsung berteriak bersahutan memprotes dan mengecam acara penyerahan bantauan itu. Bahkan salah seorang warga sempat bersitegang dengan Camat Pesanggaran, Muhammad Yanuar Bramudya melalui pengeras suara.
"Apa-apaan ini harusnya sosialisai ke masyarakat dulu baru serahterimakan. Warga menolak semua ini," tegas salah seorang warga dengan lantang.
Massa yang diketahui berasal dari Desa Sumberagung itu melampiaskan kemarahannya dengan melakukan aksi boikot. Massa pun secara tertib memilih meninggalkan lokasi dengan pawai. Selain itu membentangkan spanduk bertulisakan penolakan tambang emas, menuju ke kantor desa.
"Tolak tambang emas di Tumpang Pitu," teriak warga bersahutan dan berulang-ulang, sambil meninggalkan lokasi acara.
Sebelumnya tanda-tanda kericuhan terasa sebelum acara akan dimulai. Kedatangan mereka disambut dengan ancaman dari salah seorang petugas keamanan. Dengan sikap arogannya, si petugas mengancam akan bertindak tegas jika mereka berusaha menggagalkan acara PT IMN dan Muspika Pesanggaran. Belakangan diketahui jika massa anti tambang tersebut tak masuk dalam daftar undangan di acara tersebut.
"Boleh datang ke sini mendengarkan penjelasan pemerintah, tapi jangan bikin perkara di sini. Anda akan berhadapan dengan petugas termasuk saya," ancam si petugas dengan pengeras suara yang ada di podium.
(fat/fat)










































