Rumah bambu yang dihuninya diterjang angin kencang. 3 jam setelah kejadian, jenazah Arsiti dimakamkan di komplek pemakaman umum di dekat rumahnya.
Tetangga korban, H. Mamad mengaku almarhum saat itu sedang melipat mukena usai salat subuh di depan teras rumahnya. "Saban pagi, Bu Arsiti memang salat subuh di bale bambu di teras rumahnya," jelasnya saat ditemui di TKP, Kamis siang.
Mamad yang tinggal tak jauh dari rumah Arsiti memang mendengar suara gaduh. "Seperti suara pohon roboh. Setelah saya lihat ternyata rumah Bu Arsiti roboh," jelasnya.
Saat itu, Mamad tidak melihat nenek Arsiti. Setelah seluruh tetangga berusaha mengais reruntuhan, ternyata tubuh Arsiti tertimpa salah satu kayu penyangga teras rumahnya. Mamad dan warga lainnya langsung menolong. Saat itu Arsiti masih sehat dan tidak tampak terluka parah. Hanya terluka lecet di punggungnya.
"Malahan, istri saya sempat memberinya minum," jelas Mamad.
Sebagian warga membantu membersihkan reruntuhan rumah Arsiti. Sedangkan Mamad mengevakuasi Arsiti ke rumahnya. Luka-luka di tubuh Arsiti dibersihkan. Setelah dirawat, Arsiti tampak tertidur. "Tidurnya nyenyak
sekali," kata Mamad.
Sekitar 3 jam tertidur, akhirnya Arsiti dibangunkan. Sejumlah tetangganya tampak mengirim makanan untuk sarapan. Tapi, alangkah terkejutnya warga ketika Arsiti tak lagi bergerak. Arsiti meninggal dalam tidurnya.
"Karena anak-anak Bu Arsiti hidup terpisah, maka kami bersama warga lainnya sepakat memakamkan Bu Arsiti di pemakaman dekat rumahnya," papar Mamad. Menurut Mamad, sudah 4 tahun ini, Arsiti hidup sendirian di rumah bambu miliknya.
(fat/fat)










































