Padahal uang sebanyak itu hasil utangan untuk modal membuka usaha di Samarinda. "Saya nggak tahu bagaimana harus mengembalikannya," ujar Dasuki lemas kepada detiksurabaya.com di Gapura Surya, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin dinihari (1/6/2009).
Dasuki dan Bunaya sendiri sudah 3 tahun lamanya tinggal di Samarinda. Mereka bekerja sebagai pembuat batu bata di sebuah industri rumah tangga yang memproduksi batu bata.
Karena sudah mampu untuk membuat batu bata sendiri, mereka pun mempunyai rencana untuk membuat home industry batu bata sendiri. "Karena untuk itu perlu modal, kita pulang ke Madura mencari pinjaman," kata bapak satu anak ini.
Pinjaman sebanyak Rp 12 juta pun akhirnya didapat. Rencananya uang sebanyak itu akan digunakan untuk membuat sebuah gudang sebagai tempat menampung batu bata buatan sendiri.
Dasuki pun menyimpan uangnya di dalam sebuah tas pakaian yang dibawanya. Di dalam tas itu mereka juga menyimpan barang-barang lain yakni peralatan dapur, beras, selimut, HP dan lain-lain.
Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Belum sehari berlayar, kapal yang mereka tumpangi terbakar. Dan tanpa memikirkan harta benda karena hanya mementingkan keselamtan jiwa, mereka langsung terjun ke air tanpa menghiraukan uang Rp 12 juta tersebut.
(iwd/gik)










































