Korban bernama Sanjoto (51) ini pertama kali ditemukan oleh istrinya, Suhartiningsih (48) menjelang salat shubuh. Semula pria yang sehari-hari menjabat Kepala Bagian di Kantor Dinas Pengairan Wilayah Madura yang berkantor di Jalan Raya Panglegur Kota Pamekasan ini dianggap istrinya tertidur.
Namun alangkah terkejutnya sang istri, saat melihat suami mengenakan sarung berwarna hijau motif kotak-kotak dan baju koko terbujur kaku. Suharti pun berteriak meminta tolong dan warga mulai berdatangan.
"Melihat suaminya telentang seperti orang sedang tertidur, istrinya membangunkan korban dan disuruh salat subuh. Tapi, korban tetap tak bergerak. Akhirnya istri korban berteriak minta tolong," papar Suparman, tetangga korban yang ditemui di depan surau milik korban, Minggu (31/05/2009).
Mendengar teriakan Suharti, puluhan warga berlarian menuju surau di pojok halaman depan rumah Sanjoto. Betapa kagetnya warga, saat melihat darah mengucur dari dalam telinga sebelah kiri. Pelipis korban juga terluka memar seperti dipukul benda tumpul.
"Posisi korban saat ditemukan dalam kondisi telentang dengan tangan dan kaki tertekuk keluar dan terasa kaku. Akhirnya kami menarik paksa, agar posisi tangan bisa disedekapkan dan kedua kakinya bisa diluruskan," imbuh Suparman.
Warga makin berteriak histeris, saat sejumlah warga lainnya mengangkat tubuh korban menuju teras rumah korban. Warga melihat darah mengucur dari belakang leher korban. "Ternyata, leher korban terluka seperti tertusuk benda tajam cukup dalam," ungkap Suparman.
Korban dibunuh sehari menjelang Pilkades Desa Ceguk, yang dijadwalkan dilaksanakan Senin (1/6/2009) besok. Karena ketokohannya, Sanjoto terpilih menjadi Ketua 2 Panitia Pilkades Ceguk. Saat ini, ada dua calon kades. Yakni, Nurfadilah yang juga adik kades lama dan Taufik Hidayat.
Sementara TKP pembunuhan berada di tepi jalan mengakses ke Terminal Bus Pamekasan, tak pelak arus lalu lintas, termasuk bis antar kota terhambat. Laju kendaraan tampak merambat, lantaran TKP penuh sesak dengan warga yang bergerombol sampai memakan marka jalan.
Polisi akhirnya membawa korban ke kamar mayat RSU Pamekasan. Namun, keluarga besar Sanjoto menolak visum. Keluarga besar korban, tetap menolak visum meski telah diberi penjelasan Kapolres Pamekasan, AKBP Mas Gunarso yang didampingi Kabagops Polres Pamekasan, Kompol Bambang.
Karena keluarga menolak visum, mayat korban masih tertahan di kamar mayat RSU Pamekasan hingga pukul 09.00 WIB. Sementara di rumah duka, prosesi pemakaman korban telah disiapkan. Kapolres tampak mendatangi surau kecil yang menjadi TKP pembunuhan Sanjoto.
Sayangnya, Mas Gunarso menolak memberi penjelaskan kepada wartawan yang hendak konfirmasi atas kasus tewasnya Panitia Pilkades Ceguk itu. "Sudahlah. Beri kami kesempatan mendalami kasus ini," katanya pendek, sambil berlalu menuju mobil dinasnya.
(fat/fat)











































