Wanita yang sudah tiga tahun dinikahi korban itu tak henti-hentinya menjerit pilu seraya menyebut nama almarhum suaminya. Sementara beberapa orang kerabat berusaha memeluk dan menenangkannya.
Namun, hal itu justru semakin membuat ibu muda itu menangis histeris. Bahkan, anaknya Aditya Yoga Pratama (2,3), yang duduk di pangkuannya ikut menangis histeris. Maklum, ia menduga para wartawan yang datang adalah rombongan dari Malaysia.
"Saya masih ingat, Kamis siang sekitar pukul 12.00 WIB, menelepon cukup lama," ungkap Fidariani sambil menahan isak tangis saat ditemui wartawan di rumahnya Dusun Krajan, Desa Wora-Wari, Kecamatan Kebonagung, Sabtu (30/5/2009).
Dalam pembicaraan via HP itu, kata dia, almarhum menanyakan keadaan anaknya. Bahkan, suaminya sempat minta anaknya berbicara dengannya melalui HP. Namun, niat itu tak terkabul. Pasalnya, si bocah sedang tidur pulas.
"Dia juga bilang akan pindah kerja," tukas Fidariani sedih.
Bagi sang istri, almarhum adalah sosok yang bertanggungjawab dan sangat mencintai keluarga. Bahkan setahun merantau di negeri jiran, hampir setiap hari menyempatkan diri telepon atau mengirim SMS kepada istri dan keluarga. Tiap bulan juga rutin mengirim uang.
"Dulu bekerja sebagai sopir andongan. Dan baru sekali ini merantau ke Malaysia," imbuh Mispan (61), ayah kandung korban yang juga nampak larut dalam duka.
Informasi tewasnya korban, diperoleh dari Suryono, menantu Mispan yang juga menjadi TKI di Malaysia. Dalam insiden itu, ia juga menderita luka-luka. Dikatakan, almarhum meninggal setelah tertimpa reruntuhan bangunan.
Hingga saat ini, pihak keluarga almarhum belum mengetahui kapan jenazah korban dipulangkan ke kampung halamannya.
(bdh/bdh)










































