Mereka harus bertahan agar bisa keluar dari gunung setinggi 3.088 meter dari permukaan air laut tersebut dengan selamat.
Tersesatnya mereka di kawasan gunung yang terkenal beragam situs Majapahit tersebut juga menyisakan misteri yang sulit dijawab. Meski ada kabut, namun mereeka menyakini jika jalur yang dilalui sudah benar.
Karena ketika mereka mencari jalan kembali usai misi napak tilas Dewi Rengganis di Puncak Rengganis mereka merasa kesulitan. Padahal selama perjalanan ke Pos Pendakian Bremi, Krucil, Probolinggo mereka sudah mengikuti tanda yang ada.
"Kami tersesat di Taman Kering (jalur singkat) dan kami berputar-putar di tempat itu selama tiga kali," kata Ariel Rizki salah satu siswa saat berbincang detiksurabaya.com di Pos Pendakian Bremi, Krucil, Probolinggo, Selasa (26/5/2009).
Mereka kata Ariel terus mencoba mencari jalan keluar mengikuti tanda tali rafia. Tali rafia itu kata dia warnanya bermacam-macam dari kuning, merah, hijau dan putih.
"Sepertinya ada yang membingungkan kita, padahal kita jalan terus kok ketemu lagi di sini. Padahal kami sudah mengikuti tanda-tanda yang terbuat dari tali rafia yang berwarna macam-macam itu tapi kok selalu balik ke tempat itu lagi," timpal Achmad Baidowi salah satu siswa lainnya.
Keanehan juga dirasakan Abdul Haris. Dia mengaku jika rombongan sebenarnya sudah mengikuti jalan setapak untuk turun. "Tapi kok malah naik lagi," ungkap dia.
Mereka kata Baidowi lantas memilih beristirahat dan mendirikan tenda di kawasan tersebut. Mereka mendirikan tiga tenda. Dua pembina kata dia berusaha mencari jalan keluar bagi mereka. Selama tersesat, mereka hanya makan dedaunan yang ada di hutan karena perbekalan yang dibawa sudah habis.
"Kita hanya makan arnung. Arnung itu hampir sama seperti daun sawi tapi rasanya pahit. Kita makan di campur kecap dan kita juga sulit minum dan terpaksa minum air embun dan air hujan," tuturnya. Namun di dalam perjalanan berikutnya mereka bertemu pecinta alam dari Semarang yang kemudian memberinya makanan dan minuman.
Mustofa salah satu siswa bertutur kalau mereka juga tidak sempat memikirkan untuk buang air besar atau kecil atau juga mandi. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana bisa keluar dari kawasan tersebut.
"Tidak sempat buang air besar kita ingin cepat pulang," tuturnya dengan nada lirih karena masih lemas.
(wln/gik)










































