Namun hingga tanggal 25 Mei pagi, rombongan belum pulang. Kontan guru maupun orangtua siswa panik dan was-was. Namun setelah mendapat kabar, rombongan selamat dan dalam perjalanan turun melalui Probolinggo, perasaan cemas pun sedikit terobati.
Bagaimana mereka bisa tersesat? Ternyata setelah turun dari puncak Gunung Argopuro yang biasa disebut Puncak Rengganis, mereka gagal menemukan rute pulang akibat kabut yang tebal.
"Saat kami turun dari Puncak Rengganis, kabutnya cukup tebal," ungkap seorang pembina Pramuka, Atiqurrachman yang saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (26/5/2009) pukul 00.10 WIB sedang turun menuju ke Posko Bremi, Probolinggo.
Bahkan mereka sempat muter-muter terus di rute yang pernah dilewati. "Saya curiga dengan rute ini. Kayak lingkaran setan aja muter-muter. Akhirnya kita yakin pada jalur yang bener. Kebetulan ada teman dari Pecinta Alam Semarang yang juga kebingungan. Jadi jalan bareng," katanya dengan tertawa.
Menurut Atiqqurrachman, sesuai skenario awal turunnya di Posko Bremi. "Memang sejak awal kita rencanakan turun lewat Bremi, naiknya dari Baderan Situbondo," jelas dia. Selama tersesat, kata dia, rombongan berada di sekitar pegunungan yang biasa disebut Bukit Gumala. "Tapi ada pula yang nyebutnya Kacapiring. Tidak tahu saya pastinya," katanya. (gik/gik)











































