Awalnya, ritual larung itu akan dilakukan Jumat (15/5/2009) besok. Namun setelah dicermati, ternyata hari Jumat pon, hari yang diminta Supiah sebagai hari pelaksanaannya, jatuh pada sore hari ini. Sesuai penanggalan jawa selisih satu hari dengan kalender reguler.
"Kata sesepuh, pas Kamis sore, hari Jumat pon itu sudah masuk jadi kami majukan pelaksanaannya," jelas Supariyanto, salah satu tokoh nelayan Grajagan disela-sela ritual pelarungan.
Warga memilih untuk menuruti permintaan Supiah. Sebab hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk antispasi hal yang tidak diinginkan seperti datangnya marabahaya. Terlebih nelayan Grajagan memilik pengalaman pahit, bencana Tsnumani.
Sebelumnya sesaat setelah ditemukan duduk mengapung di laut Pelawangan, SUpiah mengingatkan agar warga menggelar selamatan jenang/bubur grendul.Saat itu Supiah tidak menyampaikan alasannya kenapa waktunya harus Jumat Pon.
Acara diikuti oleh ratusan warga Desa Grajagan yang berasal dari Dua Dusun, yakni, Dusun Grajagan Pantai dan Dusun Kampung Baru. Mereka masing-masing datang ke pesisir dengan membawa makanan sesuai permintaan Supiah.
Pantai Klampok, pantai yang paling dekat dengan laut Pelawangan dipilih sebagai tempat dilakukannya acara. Sebelum dilakukan pelarungan, sesepuh setempat yang memimpin ritual memberikan petuah serta doa bersama bagi keselamatan seluruh Desa.
"Kita tetap panjatkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, karena kita diberi peringatan melalui Mbah Supiah. Kita niati saja ini sebagai Shodaqoh," jelas Syueb Akbar, sesepuh Grajagan kala memberikan petuah dihadapan ratusan warga.
Jenang/bubur grendul yang disudah diberikan doa, satu persatu oleh warga dilarung kelaut. Sekejap makanan yang ditaruh dalam wadah yang terbuat dari daun pisang itu hanyut terbawa arus menuju ke Pelawangan. Sebagian lagi oleh warga dibagi-bagi untuk disantap beramai-ramai.
Seusai melakuan larung sesaji kelaut, warga berharap di kampung tidak terjadi hal-hal yang aneh lagi. Meski malam sebelum dilakukannya ritual, terjadi teror 2 bola api yang terbang melintasi desa mereka. "Semoga Desa kami aman, dan kami tidak was-was lagi. Semoga bola api itu kejadian yang terakhir kalinya," harap Supariyanto.
(gik/gik)











































