Harga Tanah Melambung, Pabrik Semen Gresik di Pati Terancam Batal

Harga Tanah Melambung, Pabrik Semen Gresik di Pati Terancam Batal

- detikNews
Jumat, 08 Mei 2009 17:36 WIB
Harga Tanah Melambung, Pabrik Semen Gresik di Pati Terancam Batal
Tuban - Warga kawasan Gunung Kendeng di Sukolilo, Kabupaten Pati (Jateng) terus menolak pabrik semen milik PT Semen Gresik (SG) Tbk di wilayahnya. Mereka bahkan memasang harga tanah yang sangat mahal mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per M2.

Padahal pihak PT SG memasang harga untuk pembebasan lahan seluas 1.350 hektar di wilayah Kecamatan Sukolilo, Pati itu sebesar Rp 40.000 per M2. Sedangkan harga tanah sesuai Nilai Jual Obyel Pajak (NJOP) di wilayah yang akan dibebaskan berkisar Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per M2. Hal itu mengakibatkan kedua belah pihak belum menemukan kesepakatan.

Kepala Divisi PT SG, Saefuddin Zuhri, menyatakan, saat ini sebenanya sudah mulai proses pembebasan lahan. Namun demikian, di lapangan menemui permasalahan harga.

"Ada pihak tertentu dengan berbagai alasan menghendaki PT SG tidak jadi membangun pabrik di Pati. Warga tiba-tiba memasang harga tanah sangat tinggi di luar kemampuan kita,” kata Saefuddin Zuhri saat bertemu wartawan di Rumah Makan Kurnia Dewi, Tuban, Jumat (8/5/2009) sore.

Selain masalah permintaan harga tanah yang tinggi dari warga, ada kendala sosial yang cukup mempengaruhi proyek ini. Diantaranya, ada kelompok yang memanfaatkan LSM untuk melakkan aksi penolakan. Tentunya dengan berbagai dalih dan latar belakang.

"Padahal sebenarnya, pihak Pemkab Pati dan didukung oleh Gubernur Jateng, telah mendesak agar pabrik SG ada di Pati. Bahkan kalau memang tidak bisa di Pati, kabupaten lain di sekitarnya telah meminta agar daerahnya didirikan pabrik semen oleh PT SG," ungkapnya.

Ditegaskan pula, jika masalah sosial dan kendala harga anah tidak bisa diselesaikan pihak PT SG bakal merelokasi pabrik di Pati.

"Kalau memang warga menolak atau tidak mau menjual tanahnya, kita akan pindah ke daerah yang bersedia menerima," kata Saefuddin Zuhri.

Diungkapkannya, pihak PT SG yang berstatus BUMN mendapat tugas dari pemerintah untuk bisa memenuhi kebutuhan semen di tanah air. Terlebih pada kisaran tahun 2012 kebutuhan semen secara nasional bakal membengkak. Ini terjadi karena krisis ekonomi global yang terjadi pada kisaran 2008 hingga 2009.

"Sekarang krisis global sudah mulai reda, sehingga proyek infrastruktur termasuk real estate pada tahun 2011 atau 2012 bakal segera dimulai. Ini bakal meningkakan volume kebutuhan semen, makanya kita ditugsakan pemerintah jangan sampai terjadi krisis semen," katanya.

Dikatakan, untuk tahun 2008 dan 2009 saat krisis global kebutuhan semen nasional mencapai kisaran 38 juta ton dan 37 juta ton. Jika tahun 2011 dan 2012, terjadi booming proyek infrastruktur untuk meneruskan proyek yang terhenti bakal memakan semen jauh lebih banyak.

"Oleh karena itu, kami ditugaskan pemerintah segera membangun pabrik baru. Jika proyek di Pati gagal karena berbagai sebab, kita tetap akan ekspansi ke daerah lain karena mengemban tugas pemerintah," ungkap Saefuddin Zuhri.

(bdh/bdh)
Berita Terkait