Mereka menilai, benih hibrida jenis Intani 2 dan Bernas Super tidak cocok ditanam di daerah ini. Pasalnya, untuk Intani 2 banyak bulir kosongnya. Sedangkan Bernas Super bulirnya kecil-kecil sehingga tidak disukai. Selain itu, benih padi mudah terserang hama, bahkan tak jarang serangan hama menyebabkan padi mati.
"Kami juga mengeluhkan bantuan benih padi yang kerap terlambat. Seharusnya awal musim tanam bantuan sudah datang," ujar Suroso salah seorang perwakilan Gapoktan saat dialog dengan Menteri Pertanian, Anton Apriantono yang dipusatkan di Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari, Jumat (7/5/2009).
Menanggapi hal tersebut, Anton Apriantono berjanji akan segera menindaklanjuti dengan aparat terkait. Tak hanya itu, Mentan juga berjanji memberikan bantuan kepada para petani dalam bentuk dana lunak. Namun, dia berpesan agar bantuan tersebut tepat guna. Artinya, dana bisa dimaksimalkan penggunaannya untuk kesejahteraan petani.
Terkait padi hibrida yang dinilai rentan hama, Mentan membantah tegas pernyataan tersebut. Menurutnya, semua jenis benih padi memiliki risiko sama terserang hama. Mungkin saja, ada beberapa petani yang menganggap lebih baik menggunakan benih padi konvensional, seperti Ciherang atau IR 64. Namun terbukti di beberapa daerah panen padi jenis hibrida justru lebih baik.
"Kalau ada satu dua yang panennya tidak maksimal jangan lantas digeneralisir semua jenis padi hibrida tidak bagus," tegas dia.
Dalam kesempatan tersebut Menteri pertanian secara simbolis menyerahkan bantuan benih kepada perwakilan Gapoktan. Selama di kampung halaman SBY, Mentan dan rombongan juga meninjau lahan padi hibrida dan mengunjungi obyek wisata Goa Gong di Kecamatan Punung.
(fat/fat)










































