Hadir dalam tebu manten nasional, Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, Deputi Meneg BUMN Agus Pakpahan, Dirut PTPN XI dan jajaran dari PTPN XI, XII dan X juga ratusan petani tebu.
Manten tebu merupakan ritual mempertemukan tebu petani yang disebut dengan tebu perempuan bernama Dyah Ayu Roro Manis dengan tebu milik PG Semboro yang disebut sebagai tebu laki-laki dengan nama Raden Bagus Rosan. Tebu itu disimbolkan dengan sepasang muda-mudi yang berdandan pengantin jawa.
Ritual manten tebu dimulai dengan pemotongan tebu di kebun itu. Tebu laki-laki diberi sebilah keris dan bungan melati, sedangkan tebu perempuan hanya dikalungi melati. Sebelum ditebang, seorang dukun mengucapkan doa-doa dengan membakar dupa di dekat tebu tersebut. Selain sepasang tebu yang ditebang, 18 pasang tebu juga ditebang sebagai pengiring manten.
Dalam manten tebu kali ini, tebu perempuan ditebang oleh Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, sedangkan tebu laki-laki ditebang oleh Deputi Meneg BUMN Agus Pakpahan. Setelah sepasang tebu itu ditebang, menteri dan Arum Sabil secara bergantian menyiram tebu itu dengan air bunga.
Setelah prosesi itu berakhir, sepasang pengantin tebu dan pengiringnya diarak ke PG Semboro. Petani menyerahkan tebu-tebu itu kepada negara melalui menteri, kemudian menteri menyerahkannya kepada Dirut Meneg BUMN, setelah itu kepada Dirut PTPN XI Irwan Basri, yang kemudian menyerahkan kepada pihak PG melalui Adm PG Semboro Hari Widodo. Terakhir Hari menyerahkan kepada para kepala bagian dan kepala bagian menyerahkan tebu itu kepada para teknisi penggilingan.
Namun dalam proses itu, Menteri Perdagangan RI diberi kesempatan pertama untuk memasukkan tebu ke penggilingan PG Semboro. Menurut Ketua APTRI Arum Sabil, tradisi manten tebu sebelum penggilingan ini telah ada sejak zaman kolonial dan hingga kini dilestarikan.
Lebih lanjut Arum berharap, tahun ini produksi gula meningkat sehingga swasembada gulan nasional bisa tercapai. "Tahun ini semoga bisa tercapai target 2,8 ribu ton per tahun. Meskipun kita protes kepada pemerintah karena HPP gula hanya 5.350 per kilogramnya. APTRI minta Rp 6.000," kata Arum.
Mari E Pangestu menjawab protes petani itu. "Penentuan HPP setelah ada tim independen gula turun, hasilnya biaya produksi Rp 5.100, akhirnya kita sepakati HPP segitu. Karena kita harus memperhatikan juga konsumen. Kita harus menjaga harga gula stabil di pasar, berkisar antara Rp 7.000 - Rp 8.000 per kilogram. Namun kita juga tetap mempertimbangkan petani gula tetap untung," ujar Mari.
Departemen Perdagangan menargetkan tahun 2009 ini produksi gula nasional mencapai 2,8 juta ton, dan Jawa Timur diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar 1,5 juta ton.
(bdh/bdh)











































