"Kita masih menunggu hasil dari tim labfor mabes Polri Cabang Surabaya," kata Kapolres Sidoarjo AKBP Setija Junianta saat menggelar jumpa pers bersama dokter forensik RSU Dr Soetomo Surabaya di Mapolres Sidoarjo, Jalan Kombes Pol M Duryat, Selasa (7/4/2009).
Setija mengatakan, setelah cairan yang diduga racun dicampur dengan minuman kopi itu sudah diketahui jenisnya, polisi baru akan mengembangkan kasus tersebut. "Kalau sudah tahu hasilnya, akan kita kaitkan dengan bukti-bukti yang ada di luar," ujar mantan Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim ini.
Di tempat yang sama, dokter forensik RSU Dr Soetomo Surabaya, Prof Dr dr Sukri Erfan Kusuma mengatakan dari keempat jenazah tersebut tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.
Namun, setelah diperiksa bagian dalam tubuh secara global, dua pasangan tersebut, terlihat ada pelebaran pembuluh darah di bagian kepala serta paru-paru. Rata-rata pelebaran pembuluh darah lebih besar dari ukuran normal dan berat badan jenazah.
Untuk jenazah Bohnan, paru-parunya mencapai 640 gram. Sedangkan Nahrawi, paru-paru pelebaran mencapai sekitar 600 gram. Sedangkan Miwati parunya lebih kecil dan Samawiyah terlihat seperti normal.
"Di bagian lambung keempat jenazah hampir sama. Permukaannya kemerah-merahan dan terdapat sisa bahan berwarna coklat, halus. Cairannya juga lembek," ujar dokter yang biasa dipanggil Prof Sukri.
Cairan tersebut tercium bau kopi. Tapi ada bahan yang diduga racun menyebabkan dua pasangan tersebut tewas. Sayangnya, Prof Sukri juga tidak bisa menjelaskan cairan tersebut.
"Kita tidak bisa menunjukkan spesifikasi minuman itu. Untuk mengetahuinya, kita kirim ke labfor polri. Tapi sampai saat ini kita juga belum tahu hasilnya," jelasnya. (roi/bdh)










































