Menurut paman korban, Saifullah (48), pada Sabtu (28/3/2009) sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan keluarga Nurul tiba di lokasi praktik dukun Ponari. Setiba di lokasi praktik, keluarga lalu tinggal di rumah salah satu penduduk setempat.
Sekitar pukul 22.00 WIB, Nurul yang sakit stroke dan lumpuh, mendadak kejang. Seorang pemilik rumah, lalu memberi air yang dikatakan dari Ponari. "Air itu lalu diminum Nurul dan dioleskan ke sekujur tubuh," kata Saifullah kepada wartawan di RS Swadana Jombang.
Usai minum air, Nurul tidak malah sembuh. Bahkan Nurul akhirnya tewas di rumah penduduk tersebut. Pada Minggu (29/3/2009) sekitar pukul 01.00 WIB, mayat Nurul dibawa ke kamar mayat RS Swadana Jombang.
Namun keluarga menolak, jika mayat Nurul harus diotopsi. Sehingga petugas Polsek Megaluh, kesulitan memastikan penyebab tewasnya Nurul. "Dugaannya, Nurul tewas karena sakitnya kambuh," kata Kapolsek Megaluh AKP Sutikno di RS Swadana.
Setelah menandatangani formulir dari kamar mayat, keluarga lalu membawa Nurul Cahyono kembali ke Situbondo dengan mobil ambulans RS Swadana. "Soal ditutup atau tidak, itu terserah pimpinan. Saya tidak bisa menjawab," kata Sutikno.
Sejak praktik dukun Ponari dibuka 2 bulan lalu, sudah 5 orang tewas. Sebelumnya, 4 orang tewas karena berdesak-desakan dan akibat penyakit kambuh. Meski beberapa kali ditutup, tapi lokasi itu dibuka kembali oleh keluarga Ponari. (bdh/bdh)










































