"Analisis ini setalah tim vulkanologi mengkaji letusan Semeru selama satu bulan terakhir yang fluktuatif, cenderung di bawah normal di bawah 90 letusan perhari," kata Kepala Sub Bidang Pengawasan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Agus Budianto saat ditemui wartawan di Pos pantau Gunung Semeru, Kamis (12/03/2009).
Menurut Agus, diperkirakan ada masa diam di kantong magma dangkal Semeru dengan volume berkurang. Sehingga letusan gunung Semeru sangat jarang sekali terjadi.
"Magma pusat sedang mengisi volume magma dangkal Semeru, yang bisa terjadi guguran awan panas" tuturnya.
Agus menambahkan, dengan sedikitnya volume magma dangkal sangat mudah sekali didobrak oleh tekanan energi yang besar dari dalam perut Semeru. Dan proses pengisian magma dangkal itulah yang menyebabkan bisa terjadi guguran awan panas di setiap gunung berapi di Indonesia.
"Oleh karean itu saya pantau terus letusan Semeru, baik Visual dan Seismograf," jelas Agus Budianto.
Dengan kondisi Semeru seperti saat ini, warga yang berada di wilayah Kecamatan Pronojiwo harus lebih Waspada. Sebab daerah itu tepat di bawah bibir kawah Gunung Semeru arah Tenggara dan Selatan.
"Pokoknya warga dilarang beraktivitas 4 km dari puncak Semeru, dikhawatir terkena material Vulkanik Semeru," ungkap Agus.
Menurut Agus, pada Mei 2008, Semeru sempat mengeluarkan awan panas hingga sejauh 3 Km dari puncak. Kondisi ini hampir sama dengan Semeru saat ini yang mengalami penurunan letusan. Namun guguran awan panas waktu itu, tidak menelan korban jiwa.
"Awan panas itu berbahaya bagi mahluk hidup bisa terpanggang," tuturnya.
Rata-rata awan panas yang terjadi di gunung berapi baik Semeru, Merapi, dan lainnya memiliki suhu 3.300 derajat celsius. Sehingga Awan panas harus dihindari karena bisa membunuh bagi yang dileawatinya.
Guguran awan panas berbahaya karena kecepatan luncurnya dari puncak gunung dengan membawa material vulkanik yang sangat panas. Sedangkan lava pijar juga berbahaya, namun geraknya sangat lambat dan bisa dihindari dengan cepat oleh warga.
"Yang paling banyak makan korban ya awan panasnya dibanding guguran lava pijar," pungkas Agus. (bdh/bdh)











































