Unjuk rasa ini sempat memacetkan jalur menuju Sumur Banyuurip, dikarenakan Satpam perusahaan melarang warga memasuki area basecamp yang dipenuhi oleh kontainer dan alat berat.
Setelah digelar negoisasi, akhirnya perwakilan warga diizinkan masuk untuk bertemu dengan menejemen PT Man Forestall.
"Memang sangat keterlaluan, perusahaan luar kota yang datang ke sini, maunya hanya mengeruk uang sebanyak banyaknya dari pekerjaannya di sini. Tapi kami tidak sekali pun dipedulikan untuk terlibat bekerja," kata Udi (30), salah satu warga yang berkerumun dengan warga lainnya.
Disebutkan, kejengkelan warga dipicu oleh sikap perusahaan yang mengerjakan tenaga
kasar dari luar daerah. Warga yang meminta untuk ikut bekerja, selalu ditolak. Sehingga warga sepakat untuk melabrak manajemen perusahaan dengan menggelar demonstrasi. Adapun dari pertemuan perwakilan warga dengan menejemen menghasilkan kesepakatan untuk utamakan rekrutmen tenaga lokal.
Setelah mendapat janji itu, warga pun beranjak pulang sambil mengancam akan kembali berdemo, apabila kesepakatan diingkari.
Dikonfirmasi terpisah, Manager Humas dan Personalia PT Man Forestall, Nova mengatakan, mengenai rekrutmen tenaga lokal sebenarnya telah diserahkan ke kepala desa.
"Kami juga heran, padahal sudah dipekerjakan lima orang dari desa di sini, kok masih ada demo. Kami tentu prioritaskan warga lokal sesuai syarat dari ExxonMobil. Tapi kami pastikan untuk menambah tenaga kerja lokal kembali sesuai dengan kebutuhan di pekerjaan kasar," ujar Nova. (bdh/bdh)











































