"Pondok pesantren itu berada di Kecamatan Gondanglegi dan Pakis," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dr. Agus Wahyu Arifin kepada detiksurabaya.com di Pendopo Kabupaten Malang, Kamis (5/3/2009).
Pada tahun 2008 lalu, kata dia, jumlah pasien DBD mencapai 302 orang. Dan terbanyak berasal dari lingkungan Pondok Pesantren. Penyebabnya karena kebersihan lingkungan di pesantren kurang terjaga.
Selain itu, jelas Agus, padatnya populasi santri di sejumlah pesantren menjadikan penyebaran DBD semakin cepat. "Satu nyamuk bisa menularkan DBD kepada dua hingga tiga santri," imbuhnya.
Untuk itu, Dinkes Malang memberikan bantuan alat untuk fogging atau pengasapan kepada 8 pondok pesantren yang dihuni lebih dari 700 santri. Pondok Pesantren tersebut tersebar di Kepanjen, Gondanglegi, Bululawang, Pakis dan Singosari. Selain itu, para santri dan pengurus pesantren dibekali cara memberantas sarang nyamuk yang benar untuk mengendalikan penularannya.
Agus optimis langkah ini efektif untuk mengendalikan penyebaran DBD. Selain itu, kini pihaknya juga memerintahkan 10 puskesmas dengan jumlah penderita DBD tertinggi untuk melakukan langkah pencegahan.
Diantaranya, Puskesmas Dau, Pakis, Sumberpucung, Wajak, Wonokerto, Gondanglegi, Wagir, Lawang, Pakisaji dan Kepanjen. Petugas puskesmas diminta aktif untuk memberikan penyuluhan memberantas sarang nyamuk dan melakukan langkah pencegahan.
Salah satunya mengaktifkan kembali juru pemantau jentik nyamuk (jumatik) yang jumlahnya di Kabupaten Malang mencapai 6 ribu orang. Para jumantik ini bertugas untuk memantau dan mengendalikan penyebarannya. "Setiap posyandu ada dua jumatik," ujarnya. (fat/fat)











































