Penemuan itu berawal dari penyemprotan insektisida yang dilakukan empat petugas dari Bagian Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Mojokerto, Selasa (3/3/2009) pagi tadi.
Petugas menemukan sebuah karung plastik yang di dalamnya terdapat 14 ekor ayam petelur mati dan menjadi bangkai. Kemudian petugas mengambil sampel 3 ekor ayam mati itu untuk dites menggunakan cairan rapid test. Hasilnya, seekor ayam yang mati itu positif mengidap flu burung. Untuk menyakinkan hasilnya, petugas mengujinya sebanyak tiga kali dan hasilnya positif.
"Memang seekor ayam yang mati positif flu burung. Semua ekor ayam yang mati kita musnahkan dan kita bakar," ujar Kabag Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Mojokerto, Sunarto kepada wartawan di Pasar Cakar Ayam, Kota Mojokerto.
Sunarto mengatakan, Pasar Cakar Ayam merupakan tempat transit penjualan ayam di kawasan Kota Mojokerto. Ayam-ayam tersebut berasal dari daerah Kediri.
"Kami menduga, virus flu burung itu datangnya dari daerah lain," tuturnya.
Saat ditanya lebih lanjut, akan pelarangan datangnya ayam dari daerah lain, Sunarto mengaku belum bisa memberikan keputusan pelarangan. "Kita akan koordinasikan dulu dengan pihak-pihak terkait," tuturnya.
Sementara setelah ditemukan ayam mati dan terjangkit Flu Burung, para pedagang ayam di Pasar Cakar Ayam terlihat diam dan tidak ada yang berani mengaku ayam mati tersebut miliknya.
"Saya tidak tahu, kalau tahu (ayamnya terjangkit virus flu burung) ya nggak mungkin saya jual," ujar Eka Wibowo salah satu pedagang Pasar Cakar Ayam. (roi/fat)











































