"Kami tak mempunyai foto Syaiku. Kami belum sempat memotretnya," ujar Ny Ismianah, ibu Syaiku kepada wartawan di rumahnya, Dusun Ngaren, Desa Sungon Legowo, Kecamatan Bungah, Gresik, Senin (2/3/2009).
Wajar saja Ny Ismianah berkata begitu, karena dia dan suaminya, Khoirul Anas, merupakan keluarga yang sederhana sekali. Lantai rumah mereka hanya beralaskan tanah. Itu juga menjelaskan kenapa sampai ada tanah tertinggal di paru-paru Syaiku.
Bertempat tinggal sebuah rumah kayu berukuran 8x6 meter, Syaiku merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara yakni, Taufikul Huda (12), Dini Amalia (7) dan Jalaludin (3). Anas sendiri hanyalah seorang buruh kecil di PT Liku Telaga yang memproduksi tawas.
Ny Ismianah sendiri tidak mempuyai firasat apa-apa atas kematian putra bungsunya tersebut. Yang diingat hanyalah bahwa Syaiku merupakan seorang anak yang lincah dan saat itu suka sekali merangkak. Bahkan Ny Ismianah belum sempat membayangkan akan jadi apa seperti anak itu.
"Saya belum berpikir akan jadi apa dia nanti. Eh, dia sudah meninggakan saya," kenang Ny Ismi.
Dia menjelaskan, bukan pertama kalinya Syaiku jatuh dari tempat tidur. Sudah dua kali Syaiku jatuh dari tempat tidur berketinggian 40 cm dari tanah. Namun saat itu lantai tanah rumah tidak digenangi air seperti saat ini.
"Saat itu Syaiku jatuh saat saya tinggal mengerjakan pekerjaan rumah," tandas Ny Ismi. (iwd/fat)











































