"Saat dibawa ke sini, bayi dalam keadaan tidak sadarkan diri," ujar Kepala Pelayanan Medik Puskesmas Bungah, Erny Joeni Astuetie kepada wartawan di Puskesmas Bungah, Senin (2/3/2009).
Erny menerangkan, berdasarkan cerita dari orang tua korban, saat itu Syaifunal yang sedang tertidur pulas ditinggal oleh ibunya, Ismi, untuk mencuci di belakang rumah. Tanpa sepengetahuan sang ibu, Saifunal yang kemungkinan bangun kemudian meronta lalu jatuh dari tempat tidurnya. Sayang, lantai rumah dalam kondisi tergenang air sehingga Saifunal pun tenggelam.
Yang melihat Saifunal jatuh justru bibinya. Melihat keponakannya dalam keadaan tidak sadarkan diri, Saifunal langsung dilarikan ke Puskesmas Bungah untuk mendapat pertolongan pertama. "Saat kami beri pertolongan pertama, bayi sempat sadar dan menangis," tambah Erny.
Namun karena peralatan puskesmas yang tidak memadai, Saifunal pun segera dirujuk ke RS Ibnu Sina. Sementara Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Ibnu Sina, Sri Rahayu mengatakan nyawa Saifunal tak tertolong lagi meski sudah mendapat perawatan intensif di ICU.
"Balita itu meninggal pukul 23.40 WIB," tukas Sri tanpa menjelaskan lebih detil akibat kematian bayi.
Sementara satu korban lagi adalah Hamdin Zidan (8), warga Desa Bangeran, Kecamatan Dukun. Pelajar kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah itu tewas setelah terseret arus Sungai Bangeran, Minggu (1/3/2009).
Saat itu, Zidan bersama orang tuanya Abdul Manan (41) dan temannya David (11) sedang mandi di SUngai tersebut. Karena arus sungai yang deras akibat banjir, Zidan pun terseret dan tubuhnya timbul tenggelam dipermainkan arus. Tubuh Zidan yang sudah menjadi mayat itu sendiri ditemukan oleh warga 10 meter dari lokasi kejadian. (iwd/fat)











































