Selain meluas, rumah yang terendam banjir mencapai 2.954 unit yang berpenghuni 11.816 jiwa. Sementara jalan desa sepanjang 16.670 km, 3 km jalan lingkungan serta 15 km jalan kabupaten mulai terendama air. Sementara tambak-tambak yang terendam mencapai 4.500,6 hektar.
Sementara warga di bantaran Bengawan Solo mulai panik saat sungai di sekitarnya mulai merangkak naik. Warga yang panik berada di Desa Truni, Kecamatan Babat. Sebanyak 225 rumah dari 443 rumah di desa ini terendam air, sejak Kamis (26/2/2009) sekitar pukul 23.00 WIB. Bahkan banjir di Desa Truni saat ini mencapai 1 meter-1,3 meter.
Sedangkan di Kecamatan Laren, jumlah rumah yang terendam mencapai 8 desa yakni Desa Plangwot, Bulutigo, Siser, Keduyung, Centini, Duri Kulon, Laren dan Pesanggrahan.
Camat Laren Rusgianto yang memantau perkembangan banjir di wilayahnya menjelaskan, air sudah menggenangi 408 rumah penduduk yang ada di bantaran Bengawan Solo.
"Untuk antisipasi lebih lanjut kami memerintahkan semua jajaran, termasuk para kades untuk meningkatkan kewaspadaan untuk antisipasi segala kemungkinan yang terjadi," katanya.
Banjir di bantaran Bengawan solo ini, menambah jumlah korban banjir di Lamongan. Sebelumnya, ribuan rumah di Kecamatan Glagah Karangbinangun, Turi dan Kalitengah juga sudah terendam.
Di kecamatan-kecamatan ini, banjir diakibatkan meluapnya anak sungai Bengawan Solo yakni Sungai Plalangan dan Bengawan Njero. Anak sungai Bengawan Solo ini tidak sanggup menampung air dalam jumlah banyak akibat tingginya curah hujan di Lamongan dalam beberapa hari terakhir. (fat/fat)










































