Hingga Selasa (24/2/2009) sore tadi status Sungai Bengawan Solo dinyatakan masuk siaga II. Data yang diperoleh dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PBSDA) Pekerjaan Umum (PU) di Bojonegoro menyebutkan, ketinggian air telah menyentuh level 14.50 peilschall di atas permukaan laut.
"Ini berarti status siaga banjir di bojonegoro meningkat menjadi siaga dua atau bisa dikatakan jelang siaga tiga," kata Kordinator PBSDA, Mulyono saat dihubungi.
Debit air yang terus meningkat menyebabkan air mengalir deras di pemukiman warga yang berada dalam bantaran Sungai Bengawan Solo. Kondisi itu menyebabkan warga mulai mendirikan tenda pengungsian di lokasi yang aman dari aliran air. Seperti pemukiman yang wilayahnya telah terendam air di Kecamatan Dander dan Kecamatan Kalitidu hingga Kecamatan Padangan.
Warga ketiga kawasan itu memanfaatkan bahu jalur provinsi Bojonegoro-Cepu untuk bertenda di sana, termasuk menempatkan hewan ternak. Menurut Mulyono, musibah banjir yang terjadi secara terus menerus di Tahun 2009 ini dikarenakan terjadinya pendangkalan sungai dan memutarnya aliran air di Widang Tuban, sehingga kondisi tersebut menyulitkan mengalirnya genangan air yang di Bojonegoro.
Di tempat lain, tepatnya di Dusun Grape Desa/Kec Kanor. Warga mulai mengkhawatirkan terjadinya musibah banjir untuk kesekian kalinya. Untuk mengantisipasi, warga di kawasan yang terparah selama banjir 2007-2008 lalu itu juga mulai mengemas perabot rumah dan mengungsi di tanggul sungai.
"Aduh, jangan banjir lagi. Kami sudah capek dengan banjir yang terjadi terus menerus disini," kata salah satu warga, Budi.
Kepala Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kab Bojonegoro Lukman Wafi mengatakan, selain dilanda banjir bandang di lereng bukit, saat ini Bojonegoro juga dilanda banjir Sungai Bengawan Solo.
"Ada 49 desa di 13 kecamatan yang telah terendam air banjir untuk saat ini," katanya. (fat/fat)











































