"Kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Kalau kami selaku guru, ya ingin agar Ponari sekolah dengan normal. Tapi mau apalagi, faktanya seperti ini," kata Kepala SDN Balongsari I, Jombang, Miharso kepada wartawan di ruang depan SDN Balonsari I.
Saat berangkat sekolah, Ponari diantar dan dikawal belasan panitia pengobatan. Ibarat seorang raja, Ponari digendong seorang anggota Kodim 0814/Jombang berseragam sipil. Dengan sedikit berlari, belasan panitia lalu mengikuti Ponari dari arah belakang.
Di tengah jalan, Ponari lalu dijemput Kepala SDN Balongsari I, Miharso. Dengan sepeda motor, Ponari lalu dibonceng bersama seorang tentara di belakang. Sesampai di SDN yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah, Ponari langsung masuk ruang kelas.
Setelah itu, pintu kelas ditutup dan penjagaan ketat diberlakukan. Panitia beserta beberapa tentara berpakaian sipil, menjaga Ponari di depan ruang kelas. "Mirip penjagaan seorang pejabat saja," gumam seorang wartawan surat kabar lokal.
Para wartawan yang ingin mengambil gambar Ponari dari sela-sela jendela kelas, juga dilarang panitia. "Semua wartawan minggir dan menjauh," kata seorang pemuda dengan nada sedikit berteriak kepada para wartawan.
Menjelang pukul 10.00 WIB tadi, Ponari lalu pulang. Setelah itu, Ponari membuka praktek. Di lokasi, terdapat sedikitnya 5 ribu pasien yang sedang menunggu. Para pasien itu sudah mendapat kupon dari panitia, yang dijual seharga Rp 5 ribu untuk setiap kupon. (bdh/bdh)











































