"Sudah semingu ini Semeru tidak batuk," kata Slamet (55), warga Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro pada detiksurabaya ditemui di rumahnya, Selasa (17/2/2009).
Menurut Slamet, warga yang tinggal di lereng Gunung Semeru khawatir peristiwa tahun 1994 kembali terulang. Saat itu Semeru tidak batuk, tiba-tiba lahar panas mengalir ke arah selatan dan memakan korban jiwa di Dusun Kamar A, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan candipuro.
"Waktu itu yang meninggal puluhan warga di kamar A," terang Slamet.
Meski warga merasa was-was dengan kondisi gunung itu, kebanyakan mereka masih tetap bekerja di lahan pertanianya. "Khawatir iya, tapi belum ada imbauan dari pemerintah, mas," ungkap Sutini (45), salah satu warga Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro.
Sementara pantauan petugas pengamat Gnung Semeru di Pos Pantau Gunung Sawur menyatakan sejak Senin kemarin hingga hari ini Puncak Mahameru hanya mengeluarkan letusan sebanyak 29 kali. Normalnya, dalam sehari letusan mencapai 100-150 kali. Sedangkan letusan vulkanik dangkal mencapai 2 kali, vulkanik dalam 1 kali dan 2 kali gempa tektonik jauh.
"Dengan letusan di punvcak sangat jarang, aktivitas Semeru meningkat mas," jelas Hery Kuswandata petugas Pemantau Gunung Semeru di Gunung Sawur Kecamatan Candipuro.
Menurut Hery, jika Gunung Semeru jarang meletus, biasanya ada kubah lava diam dan guguran lava pijar. Namun status Semeru hingga saat ini Waspada.
"Pantauan visual puncak Gunung Semeru masih tertutup awan," ungkap Hery.
(bdh/bdh)










































