Informasi yang berhasil digali detiksurabaya.com menyebutkan, ke 11 kapal mulai terdampar sejak Jumat (13/2/2009) malam karena gelombang laut mencapai 5 meter di Perairan Samudra Hindia.
"Kami ngak mau ambil risiko Mas. Sudah banyak kejadian kapal karam, dan lebih baik kami menyelamatkan diri daripada jadi korban berikutnya," kata salah satu Anak Buah Kapal (ABK) dari kapal nelayan asal Kabupaten Pekalongan, Andre saat dikonfirmasi wartawan di kapalnya, Sabtu (14/2/2009).
Dari masing-masing kapal yang terdampar, rata-rata memiliki ABK mencapai 10 orang. Kapal-kapal tersebut juga memiliki muatan dalam jumlah besar, setelah melaut 3 hari.
Akibat terdampar, para ABK terpaksa menjual hasil tangkapannya dengan harga murah di sekitar Pantai Popoh. Hal ini dilakukan guna menghindari busuknya ikan hasil tangkapan, serta upaya mencari uang untuk bertahan hidup.
"Seharusnya kami sudah harus kembali ke Pekalongan sejak kemarin siang. Makanya bekal kami sekarang habis, dan untuk bertahan hidup terpaksa kami jual hasil tangkapan," ujar Andre.
Hingga saat ini para ABk kapal asal Pekalongan, belum dapat memastikan sampai kapan akan bertahan di Pantai Popoh. Mereka hanya bisa berharap gelombang tinggi segera reda, sehingga perjalanan pulang dapat segera dilakukan.
Langkah para ABK kapal asal Pekalongan menjual ikan hasil tangkapannya, disambut gembira sejumlah pengepul ikan di Pantai Popoh. Pasalnya, sejak sebulan terakhir nelayan asli daerah tersebut tidak berani melaut, dengan alasan yang sama. (fat/fat)











































