Dari pantauan detiksurabaya.com, hingga pukul 21.30 WIB, ratusan orang masih memadati di depan pintu masuk praktek dukun cilik.
Kenekatan warga ini seperti yang diakui oleh Suparman (42) asal Pekalongan yang mengaku nekat antri berdesakan didepan pintu masuk.
"Meski saya sudah tahu Mas Ponari tidak ada saya tetap menunggu. Siapa tahu malam ini dia datang dan besok dibuka lagi prakteknya. Selain itu, jika antri besok pagi sudah pasti saya akan lama lagi dapat giliran pengobatan," katanya kepada detiksurabaya.com dilokasi, Selasa (10/2/2009) sambil duduk di bawah beralaskan paving dan memegang tas plastik berisi toples berisi air.
Hal senada juga dikatakan oleh Sundari (38) asal Ploso, Jombang yang mengaku jika dirinya nekat tetap bertahan demi mendapatkan pengobatan yang sudah ada hasilnya.
"Kalau saya pulang terlalu jauh mendingan saya terus menunggu meski saya tidak tahu sampai kapan. Tapi saya sudah mendapatkan hasil setelah berobat dan meminum dua kali dari Mas Ponari. Selain itu, saya juga sudah mengantongi tiket antrean," jelas ibu empat anak ini.
Hal ini membuat panitia pengobatan harus berjaga ekstra agar tidak terjadi desakan antara pengantri.
Sementara itu, suasana kampung dukun cilik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas III ini berubah menjadi pasar malam semenjak membludaknya pengunjung yang mengantri untuk mendapatkan sentuhan tangan M Ponari.
Sebelumnya sore hari tadi petugas Polres Jombang mengimbau agar warga yang masih setia mengantre untuk segera meninggalkan lokasi lantaran M Ponari sakit sejak kemarin. Serta insiden meninggalnya empat orang yang mengantri kemrin. (ze/nwk)











































