Mereka memprotes lantaran sudah mendapat kupon antre pengobatan yang sudah didapat sejak kemarin. "Kalau praktek ditutup, bagaimana dengan kami yang sudah antre dan dapat kupon sejak kemarin," teriak salah satu warga asal Bogor, Jawa Barat, Wiryanto (42) dengan nada kesal, Selasa (10/2/2009).
Protes Wiryanto ini juga diamini masyarakat yang juga sudah memegang kupon sejak kemarin. Lantaran banyaknya protes, seorang panitian melalui pengeras suara menyatakan jika pengobatan alternatif Ponari dihentikan.
"Mohon kesadarannya agar semua pulang, karena pengobatannya ditutup hari ini," teriak salah satu panitia.
Mendengar pengumuman tersebut, dengan kompak warga meneriakkan: "Huuu..Namun mereka tak sedikit pun bergerak dan meninggalkan lokasi. Mereka memilih berdiri dan berusaha rumah Ponari yang jaraknya sekitar 10 meter.
Pengobatan Ponari dikenal tanpa memungut biaya. Padahal prakteknya, setiap pasien harus membeli kupon dan mengisi kotak amal. Mereka mengantre membeli kupon dan mengisi kotak amal. Besaran uang yang dimasukkan sesuai kemampuan. Antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.
"Saya membeli Rp 5 ribu. Ada juga yang dijual dengan Rp 10 ribu di dekat rumah Ponari," kata Suhartatik (32), pasien asal Wonoayu, Sidoarjo.
Kotak amal itu dijaga dua orang berseragam TNI dan Polri. Sedang yang berada tepat di belakang meja, merupakan dua warga mengenakan kartu panitia. "Mohon isi kotak amal dulu," teriak seorang berseragam TNI kepada para pasien.
Dari pantauan detiksurabaya.com, meski praktek pengobatan dihentikan dan lautan manusia berada di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, hanya ada beberapa petugas kepolisian dari Polsek Megaluh. Rencana Ponari yang akan dievakuasi ke Mapolres Jombang pun belum terlihat ada tanda-tanda.
"Ponari dan keluarganya masih di dalam rumah, belum dievakuasi polisi. Tapi mereka tidak mau bertemu dengan siapa pun," jelas salah seorang panitia yang enggan menyebut nama. (fat/fat)
