Yang lebih tragis, setelah dihantam gelombang, kapal-kapal itu lalu terbentur batu besar atau biasa disebut warga 'Batu Penganten' yang sering meminta tumbal jiwa di Perairan Pulau Sapapan.
Beruntung, meski dihantam gelombang keempat kapal tidak mengalami kerusakan yang berarti dan berhasil dievakuasi ke bibir pantai. Keempat kapal itu yakni KM Armada 2 yang dikapteni Fiktor (42) dengan 10 anak buah kapal (ABK). Kapal ini bermuatan 2.500 kubik Kayu Merbau. Berangkat dari Irian Jaya, Kamis (8/1/2009) dengan tujuan Surabaya, terdampar, Minggu (8/2/2009) siang.
Sedangkan KM KSA 23 dengan Kapten Saru (46) berangkat dari Cilacap Jawa Tengah, Minggu (1/2/2009) tujuan Kalimantan Timur. Semula kapal ini bermuatan bahan bangunan. Namun karena keseimbangan mulai sulit terkendali akibat hantaman ombak, muatan kapal itu dibuang ke laut.
Kapal barang lainnya, yakni KM Megas Lestari 8 bermuatan batu bara dari Kalimantan, Jumat (30/2/2009) tujuan Paiton, Jawa Timur dan KM Muara Mas Murni bermuatan alat-alat berat tujuan Probolinggo, Jawa Timur terdampar, Minggu (8/2/2009) malam.
Tuhrarawi (38), tokok masyarakat Desa Majanangger, Kecamatan Arjasa, Sumenep mengatakan, semua ABK kapal barang yang diselamatkan warga saat ini masih terlihat shock. Sebab, selama perjalanan di laut kapal yang mereka awaki nyaris tenggelam. Bahkan, ada kapal yang sudah kehabisan makanan (bekal) sehingga hanya bertahan hidup dengan minum air laut.
"Saat ini mereka berada di rumah warga nelayan Majanangger dan Desa Saobi," kata Suhrarawi saat dihubungi detiksurabaya.com melalui tetelpon selulernya, Senin (9/2/2009) pagi.
Selain para ABK kapal tersebut mendapatkan pertolongan dari warga nelayan 2 desa, kapal barang yang mengalami kerusakan akan diperbaiki agar bisa digunakan melanjutkan perjalanan bila cuaca di laut membaik. Untuk hari ini, cuaca masih tergolong ekstrim dan ketinggian ombak berkisar 5 meter.
Dia menjelaskan, setiap tahun wilayah Perairan Pulau Sapapan Desa Saobi, Kecamatan Kangayan, Sumenep selalu makan korban jiwa. Selain menjadi perlintasan kapal besar antar kota semisal Bali, Sulawesi, Irian Jaya dan Kalimantan, juga terdapat batu besar (karang) di tengah laut yang tidak ada mercusuarnya. Warga menyebutnya 'Batu Pengantin'.
Pada tahun 2007 lalu, daerah tersebut makan korban 8 nelayan. Mereka tewas tenggelam setelah menabrak 'Batu Pengantin' itu. Sedangkan tahun 2008 lalu, menghancurkan perahu layar motor milik nelayan. Para ABK nya selamat setelah mendapat pertolongan nelayan lain.
"Jadi keberadaan Batu Penganten itu perlu ditandai dengan lampu mercusuar," pungkasnya. (bdh/bdh)










































