Distribusi Sembako Tertahan, Warga Masalembu Terancam Kelaparan

Distribusi Sembako Tertahan, Warga Masalembu Terancam Kelaparan

- detikNews
Selasa, 03 Feb 2009 11:29 WIB
Distribusi Sembako Tertahan, Warga Masalembu Terancam Kelaparan
Surabaya - Cuaca buruk dan tinggi gelombang di wilayah perairan Pulau/Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura membuat warga di 4 desa terancam kelaparan. Mereka kehabisan stok 9 bahan pokok (Sembako), dan terpaksa mulai makan gaplek.

KMP Dharma Bahari Sumekar (DBS) I yang bisa mengakut sembako ke pulau itu tidak mampu mengarungi Laut Jawa di tengah ganasnya ombak setinggi 5 meter. DBS I sendiri melakukan pelayaran terakhir kali 8 Januari 2009 lalu. Itu pun sempat terombang-ambing diterjang ombak ganas.

Salah seorang tokoh masyarakat Pulau Masalembu Maktuf Syarif mengatakan, stok sembako sudah habis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga di 4 desa (Masalima, Karamian, Sukajeruk dan Desa Masakambing) mulai makan gaplek dan dicampur sisa nasi kering (Aking).

"Masyarakat terancam kelaparan," tegas Maktuf ketika dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (3/2/2009).

Dia mendesak pemerintah melakukan penanganan serius untuk mendistribusikan sembako. Sebab, jika dibiarkan akan timbul persoalan baru ditengah kehidupan masyarakat Pulau/Kecamatan Masalembu yang berjarak 112 mil dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep.

Sementara, Kepala Administrator Pelabuhan Kalianget, Sumenep Abd Rachim mengatakan, hingga saat ini perairan Pulau Masalembu tidak aman untuk pelayaran.

"Ketinggian ombak masih berkisar 4 sampai 5 meter. Makanya, dalam waktu yang tidak ditentukan, pelayaran ke Masalembu ditutup," tegas Abd Rachim pada wartawan di kantornya, Jalan Pelabuhan Kalianget, Sumenep.

Bahkan pelayaran ke sejumlah pulau lainnya, termasuk ke Pulau Kangean dan Sapeken yang dilayani KMP Dharma Bahari Sumekar (DBS) I juga gagal berangkat karena ombak kembali mengganas.

"Pelayaran ke Sapeken dan Kangean, sejak kemarin dan hari ini berisiko bagi keselamatan manusia. Sedangkan pelayaran ke Masalembu sudah 26 hari tidak dilalui kapal laut karena berbahaya," ujar Abd Rachim. (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait