Warga yang berada di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah ini sebagian sudah mengungsikan ternak dan harta bendanya.
Pantauan detiksurabaya.com, banjir akibat meluapnya Bengawan Solo di musim penghujan ini menerjang ribuan hektare areal pertanian dan rumah penduduk lebih di 49 desa yang tersebar di 13 kecamatan.
Banjir yang paling terparah sudah terlihat di desa-desa yang tersebar di Kecamatan Margomulyo, Padangan, Puswosari, Kalitidu. Begitupula, desa-desa yang berada di kecamatan du ujung timur Bojonegoro seperti Balen, Kapas, Kanor dan Baureno.
Di Padangan, warga sudah mulai mengungsikan harta benda termasuk hewan ternaknya. Meski banjir masih setinggi lutut orang dewasa, namun warga kuatir jika nantinya terus membesar.
"Kita trauma seperti akhir tahun 2007 lalu. Banjir saat itu besar sekali," kata Purwito, warga Padangan. Purwito memilih selamat dengan mengungsikan keluarganya ke kerabatnya yang berada di Kecamatan Cepu, Blora Jawa Tengah.
Komandan Satgas Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Pudjiono mengingatkan kepada warga untuk tetap waspada menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
"Kami tetap siaga 24 jam dan semua peralatan pendukung sudah siap. Kalaupun nantinya harus didirikan dapur umum kita juga sudah siap," kata Pudjiono.
Selain di pinggiran desa, banjir juga sudah terjadi di kecamatan kota. Bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatul Atfal di Desa Kalirejo, Kecamatan Kota, terpaksa meliburkan aktivitas belajar mengajar karena halaman sekolah kebanjiran. (gik/gik)











































