400-an orang yang rumahnya di bibir sungai itu membawa perbekalan dan menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Tingginya air kiriman dari Madiun dan Ponorogo karena hujan sejak kemarin dan membuat alat pendeteksi bahaya banjir berbunyi.
Dari pantauan detiksurabaya.com, Sabtu (31/1/2009) tanda bahaya banjir yang berbunyi terus menerus ini membuat perangkat desa mendatangi rumah warga untuk berkemas-kemas.
"Saya mengimbau kepada warga agar berkemas. Hal ini menghindari banjir seperti tahun lalu yang mencapai ketinggian meter. Apalagi rumah mereka berada di bibir Sungai Madiun," kata staf umum Kelurahan Ketanggi, Joko kepada detiksurabaya.com di lokasi Jembatan Ketanggi.
Dia mengaku jarak antara rumah warga dan Sungai Madiun sekitar 2 meter. Jika warga tidak mengantisipasi, maka dalam waktu singkat air ini bisa meluap dan merendam rumah-rumah warga.
Bahkan tahun lalu sebanyak 22 orang meninggal dunia karena terseret banjir dan sakit. "Jangan sampai kejadian tahun lalu terulang lagi. Makanya kita imbau warga agar bersiap dan tidak panik lagi," tegasnya.
Sementara kawasan Kota Ngawi terlihat mendung dan puluhan warga bergerombol di atas jembatan melihat tanda bahaya banjir yang berbunyi terus menerus.
(fat/fat)










































