Hal ini dilakukan agar tidak berisiko seperti para korban nelayan atau kapal yang diberitakan di televisi.
"Kami melihat di televisi, banyak nelayan dan kapal penumpang yang hilang diterjang gelombang, ya lebih baik tidak kerja dulu Pak. Dari pada terjadi hal yang tidak kami inginkan," terang salah satu nelayan, Munawi asal Desa Tanjung Glugur kepada wartawan, Kamis (29/1/2009).
Diperkirakan nelayan tidak akan beroperasi hingga Maret mendatang. Sebab pada bulan Februari, merupakan puncak tingginya gelombang. Saat ini saja, tinggi gelombang di Perairan Situbondo mencapai 5 meter.
"Kami pernah memaksa untuk melaut, tapi gelombangnya mencapai kurang lebih 5 meter Pak. Ya terpaksa kami kembali," tambahnya.
Tidak melautnya nelayan ini, juga memaksa mereka untuk mencari nafkah dengan cara lain. Pak Nur misalnya, nelayan asal Pesisir Panarukan tersebut memilih untuk menjadi kuli bangunan. Bahkan, istrinya juga terpaksa mencari tambahan penghasilan dengan mencari kerang di bibir pantai.
"Kalau tidak gini, dapur tidak ngebul pak," terang Nur dengan bahasa madura kental.
Tidak beroperasinya nelayan, juga berimbas kepada sejumlah pemilik perahu. Kini, juragan perahu ini harus ngaplo alias tidak mendapat pemasukan keuangan. (fat/fat)











































