Sawah naas tersebut berada di Desa Tegalrejo seluas 170 hektar, Kedungharjo seluas 160 hektar dan Desa Simorejo seluas 100 hektar. Kondisi tanaman saat ini mulai menguning, bahkan sebagian lainnya mati.
Genangan air tersebut tidak bisa dikeluarkan karena satu-satunya sungai pembuangan, Afur Kuwu yang melintas di sekitar kawasan tersebut tertutup pasir. Pasir setinggi 1 sampai 2 meter itu dibawa banjir Bengawan Solo akibat jebolnya tanggul bengawan di Dusun Brahu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang, Tuban awal tahun 2008 lalu.
Hingga kini pun Afur Kuwu sepanjang 2,6 Km dari Desa Kedungharjo hingga sisi utara Desa Simorejo, masih tertutup pasir bercampur tanah. Praktis irigasi yang dibangun pada jaman pemerintah kolonial Belanda tersebut tak bisa difungsikan.
Sejumlah petani yang ditemui detiksurabaya.com menyatakan sudah pasrah melihat kondisi sawahnya direndam air hujan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengalirkan genangan air, namun selalu gagal karena Afur Kuwu tak bisa difungsikan.
"Kami sudah pasrah dengan kondisi ini, mau dialirkan kemana airnya kalau Afur Kuwu masih tertutup pasir," ungkap Khoirul Huda, petani yang ditemui di sawahnya Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang, Tuban, Selasa (13/1/2009).
Senada diungkapkan petani dari Desa Simorejo dan Kedungharjo yang ditemui secara terpisah di desanya. Mereka meyakini selagi Afur Kuwu masih tertutup pasir dan tanah genangan air tak bakal bisa dialirkan ke mana-mana.
"Problemnya Afur Kuwu masih tertutup pasir. Kalau tidak segera dikeruk sawah di desa ini dan sekitarnya tidak bisa digarap," ungkap Kades Kedungharjo, Kecamatan Widang, Tuban, Simanjaya, yang ditermui secara terpisah.
Melihat kondisi demikian, sejumlah petani yang padinya sudah berumur dua bulan dipanen paksa. Paling tidak mereka berharap masih bisa dipilah-pilah padinya dan bisa dipakai untuk pakan ternak. (fat/fat)











































