Haji Zain, tokoh nelayan Muncar mengatakan, upacara tradisional petik laut merupakan langkah awal nelayan untuk mencari berkah dari laut selama setahun.
"Kami mengucapkan rasa syukur atas limpahan hasil laut setempat sebagai sumber penghidupan nelayan. Semoga dengan upacara ini, kami diberikan rejeki dari laut yang lebih melimpah lagi," kata Zain, yang juga Ketua Panitia Petik Laut Muncar kepada wartawan, Senin (12/1/2009).
Sebelum pelarungan sesaji, perahu gitik yang berisi dua ekor ayam, kepala kerbau, dan bermacam tanaman hasil bumi diarak menuju ke tepi pantai, tempat pelelangan ikan (TPI), diiringi dua penari gandrung, penari tarian khas Banyuwangi. Namun, malam hari sebelumnya, warga kampung nelayan Muncar, menggelar acara tirakatan dan pengajian.
Sebelum sesaji tersebut dilarung ke tengah laut. Bibir kerbau yang akan dilarung dipasang pancing emas.
Ribuan warga dengan menumpang puluhan perahu menyaksikan prosesi terakhir dari petik laut ini, siap merebut sesaji itu. Namun, untuk kali ini, dukun petik laut melarang warga untuk mengambil sesaji.
"Jangan diambil, biar sesaji itu untuk (dimakan, Red) penghuni laut," jelas imbau pawang petik laut itu.
Upacara tradisional Petik Laut di kampung nelayan Muncar itu dipadati ribuan warga. Selain itu, pejabat teras Pemkab Banyuwangi seperti Bupati Ratna Ani Lestari serta pejabat Banyuwangi, maupun pejabat dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut hadir.
(roi/fat)










































