Informasi yang digali dari salah seorang sumber di sekitar lokasi menyebutkan, dugaan atas pencabulan telah dilakukan oleh SH, sebagai pengasuh ponpes dan pengelola panti asuhan anak yatim.
Dalam melakukan aksinya, SH yang akrab dipanggil Abah memulainya dengan meminta dipijit. Berawal dari pijitan, SH meminta lebih. Mulai dari mencium, meraba organ intim, hingga mengajak hubungan layaknya suami istri.
Para santriwati yang menjadi korbannya rata-rata tidak berani menolak. Karena selain ewuh pakewuh, mereka juga dijanjikan akan disekolahkan hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Sampai saat ini ada 3 santri yang bersedia menjadi saksi, dan akan kami laporkan kejadian ini ke polisi. Untuk ke 16 korban, saat ini mereka sudah keluar dari pondok, karena sudah tidak tahan lagi," kata sumber yang enggan namanya ditulis, Minggu (11/1/2009).
Sementara, pencabulan itu terjadi sejak berdirinya pondok sekaligus panti asuhan, pertengahan tahun 1997 lalu. Kebejatan SH mencabuli santriwati diakui ang sumber menjadi rahasia umum di pondok tersebut. SH juga sudah berulang kali diingatkan, namun setelah berjanji akan menghentikan aksinya, tindakan itu tetap dilakukan.
"Saat itu pernah kami menempuh jalur kekeluargaan, dengan mengingatkan agar sadar. Tapi saat itu dia hanya janji, dan sampai sekarang laporan dari santriwati yang jadi korbannya terus ada," ujarnya.
Puncaknya, akhir tahun 2008 lalu sesama pengasuh melakukan hubungan badan di lingkungan pondok, meski keduanya tidak ada hubungan suami istri. Bahkan, salah seorang pengasuh lain yang berusaha melapor pemandangan yang dilihatnya, justru mendapat marah dan diancam akan dikeluarkan.
"Kami sudah tidak kuat dengan apa yang terjadi di sini. Beberapa pengasuh pondok sudah sepakat akan membawa kejadian ini ke jalur hukum," ungkap sang sumber yang mengaku juga pernah menjadi pengasuh di Ponpes RJ.
Secara terpisah Kapolres Blitar, AKBP Putu Jayan Danu Putra, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya sudah mendengar dugaan pencabulan yang dilakukan kiai terhadap santriwatinya.
Meski begitu, polisi mengaku belum dapat mengambil tindakan apapun, karena belum mendapatkan laporan atas dugaan tersebut. "Kalau nanti sudah ada laporan, kami akan segera menindaklanjutinya. Ini tentu akan menjadi prioritas penanganan, karena kejadian ini mengundang perhatian dari masyarakat luas," kata Putu.
Putu menjelaskan, atas informasi itu pihaknya sudah menerjunkan sejumlah personel untuk penyelidikan. "Selain menunggu laporan, kami juga melakukan penyelidikan untuk mengungkap kebenarannya," tegasnya. (fat/fat)
