Warga Banyuwangi Gelar Ritual Kebo-keboan

Warga Banyuwangi Gelar Ritual Kebo-keboan

- detikNews
Minggu, 11 Jan 2009 16:03 WIB
Warga Banyuwangi Gelar Ritual Kebo-keboan
Banyuwangi - Hasil panen yang melimpah, ratusan warga Dusun Krajan Desa Alasmalang, Banyuwangi menggelar ritual kebo-keboan (Kerbau-kerbauan) sebagai rasa syukur.

Selain sebagai wujud rasa syukur, ritual itu sebagai tolak balak. Bagi warga setempat, musibah akan melanda desa jika kebo-keboan tidak dilaksanakan. Sebab, ritual sakral ini ada setelah Buyut Karti, leluhur Desa Alasmalang mendapat wangsit saat wabah penyakit sedang melanda Desa Alasmalang, 300 tahun lalu.

"Ritual ini manifestasi dari rasa syukur warga yang menggantungkan hidupnya dari bertani. Selain itu untuk tolak balak dari marabahaya," jelas Indra Gunawan, Ketua Penyelanggara Kebo-keboan kepada wartawan di lokasi, Minggu (11/1/2009).

Kebo atau kerbau dipilih menjadi simbol yang mewakili, lantaran kerbau dinilai hewan yang selalu membantu petani dalam mengelola sawah. Dari pantauan detiksurabaya.com, 15 pasang "manusia kerbau" diacara ini seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga.

Bermacam tanaman hasil bumi menghiasai di tiap jalan kampung. Untuk mendapat kesan suasana persawahan, jalan desa pun dialiri air yang berasal dari sungai setempat. 12 tumpeng, simbol waktu perputaran kehidupan manusia yang disajikan dinikmati bersama-sama.

Dipimpin tokoh adat, ritual kebo-keboan dimulai dengan kenduri dan doa bersama di jalan utama desa. Ke-15 pasang manusia kerbau yang seluruhnya laki-laki diarak mengelilingi empat penjuru Desa. Prosesi ini disebut sebagai ider bumi. Namun sebelumnya, pawang kerbau memberikan tapung tawar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan pada sikerbau jadi-jadian itu.

Alunan musik tradisional using mengiringi selama prosesi ider bumi tersebut. Satu pasang kerbau akan dijaga satu orang petani. Sebab, sesekali ulah manusia kerbau yang mulai kerasukan roh itu bertingkah layaknya kerbau sungguhan. Tak jarang manusia kerbau berbuat nakal dan menggelikan.

Pengunjung, terutama wanita menjadi sasaran kenakalan mereka. Diseruduk atau bahkan bermanja-manja dipunggung pengunjung wanita. Namun mereka (kebo) akan beringas jika melihat warga yang mencoba mengganggu seorang gadis yang divisualisasikan sebagai Dewi Sri, Dewi kesuburan.

Ritual diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi. Benih padi ini menjadi rebutan warga. Karena diyakini menghasilkan hasil penen yang lebih berlimpah lagi. Tak heran warga nekad berebut meski harus dikejar-kejar kerbau. Jika tertangkap tubuh warga itu akan dibenamkan ke sawah.

"Yang dinantikan ya ini mas, berebut benih padi. Benih dari ritual ini diyakini tahan hama dan bisa panen berlimpah," terang joko, seorang petani yang turut berebut benih padi meski sempat diseruduk kerbau jadi-jadian. (fat/fat)
Berita Terkait