Pemerintah Kabupaten Pamekasan, menjadikan fenomena alam ini sebagai kawasan wisata Api Tak Kunjung Padam. Lantaran tidak terurus, untuk memasuki area wisata ini tidak perlu membayar alias gratis. Kawasan wisata ini, baru ramai dikunjungi jika masa liburan.
Di luar liburan, kawasan wisata ini relatif sepi. Bagi warga setempat, tidak ada istilah waktu libur. Mereka tetap mengunjungi kawasan wisata api tak kunjung padam. Bukan untuk berwisata. Melainkan untuk memasak keperluan rumah tangga.
Dari pantauan detiksurabaya.com, Selasa (6/1/2009) tdak sedikit, warga yang memanfaatkan gas alam gratis ini memasak air minum. Warga juga menggunakan bahan bakar ini memasak nasi dan lauk pauk. Tak ada istilah gas langka bagi kalangan ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar api abadi ini.
Jika masa liburan, pedagang di sekitar lokasi api alam ini, menjajakan jagung muda mentah. Para wisatawan tinggal membakar jagung di atas api alam ini. Ada pula yang menjual telur mentah dan pengunjung tinggal memasak di atas tungku air yang disediakan pedagang.
Memang nikmat, jika mengkonsumsi jagung bakar ataupun telur rebus hasil pembakaran api tak kunjung padam. Wisatawan merasakan pengalaman luar biasa saat mendekati sumber api alam, dan membakar jagung atau merebus telur dengan tangannya sendiri. Wisatawan bisa merasakan eksotisnya fenomena alam ini.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke taman Api Tak Kunjung Padam, tinggal turun di Terminal Bus Pamekasan. Dari terminal, tinggal naik ojek dengan ongkos Rp 7.500 sekali jalan.
Jika mengendarai sepeda motor atau mobil pribadi, para wisatawan tinggal berbelok ke arah utara menjelang pintu masuk Kota Pamekasan. Jaraknya hanya 1 Km dari pintu masuk kota. Jika masih bingung, wisatawan bisa menanyakan kepada petugas Dishub yang ngepos di Pos Dishub persis di pertigaan menuju Terminal Bus Pamekasan. (fat/fat)











































