Lokasi rumah Sulkan yang kesehariannya bekerja sebagai penjahit ini sekitar 700 meter dari pusat utama semburan lumpur Lapindo.
Sebelum ambruk, rumah itu terlebih dulu mengalami retak pada lantai dan dinding dengan kelebaran retakan sekitar 8 cm. Reatakan ini sudah terjadi sejak tahun 2007 lalu.
Tutuk (41), istri Sulkan saat ditemui detiksurabaya.com mengatakan, saat tembok itu ambruk dirinya tengah melakukan tugas rutin di dapur. Tiba-tiba saja dirinya mendengar suara benda jatuh. Saat itu juga dia melihat bangunan pembatas di kamar belakang sudah roboh.
"Saya kaget. Lalu langsung keluar dan berteriak minta tolong ke para tetangga," ujar Tutik singkat.
Kini Sulkan bersama 6 keluarganya takut untuk menempati rumah itu. Bahkan beberapa perabot rumah tangga miliknya saat ini sudah dikeluarkan dari dalam rumah. Malam ini Sulkan bersama keluarga berencana mendirikan tenda di Jalan Flamboyan sebagai tempat tinggal sementara.
"Kami tidak berani menempati rumah lagi. Karena khawatir kalau sewaktu-waktu rumah itu ambruk," ujar Tutik.
Kini Sulkan bersama keluarga hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib keluarganya. "Saya berharap pemerintah mau membantu. Kalau bisa ya tolong bangunan yang ambruk ini diperbaiki lagi," pinta Sulkan.
Dari pengamatan detiksurabaya.com, saat ini beberapa petugas dari BPLS, Polsek Porong dan Muspika Porong masih berada di lokasi kejadian. Belum ada tindakan apa pun yang dilakukan. (bdh/bdh)










































