Ritual ini bertujuan agar terhindar dari segala musibah, terutama dari bencana Gunung Semeru. Tradisi itu sering disebut dengan ritual Maeso Syuroan atau Ruat Semeru.
Pantauan detiksurabaya.com, Senin (29/12/2008), sebelum melakukan ritual di hutan bambu di Sumber Air Deling, 3 tumpeng dari hasil bumi beserta kepala sapi diarak keliling desa dengan disertai iring-iringan gemelan dan kesenian Reog.
Setelah puas keliling desa, tumpeng dan kepala sapi kemudian dibawa ke hutan bambu, yang bertempat di bawah lereng Gunung Semeru. Setibanya di hutan bambu, sesaji kemudian diletakkan di atas sumber mata air kehidupan.
Sebelum kepala sapi di tanam, sesepuh desa Mbah Tirto memanjatka doa dan membaca mantra, meminta agar semua warga diberi keselamatan. Setelah membaca mantra, tumpeng diceburkan ke sumber mata air.
"Warga di sini gelar suroan dan sesajen untuk penunggu Semeru, biar diberikan keselamatan dan hasil pertanian melimpah," kata Mbah Tirto kepada detiksurabaya.com di lokasi ritual selesai memanjatkan doa.
Menurut Mbah Tirto, hal ini dimaksudkan sebagai persembahan bagi penunggu Semeru yang berada di sumber mata air yang berwujud Uling Putih seperti Ular. Sebab sumber mata air itu sebagai pertanda meletus atau tidaknya Gunung Semeru.
"Jika sumber mata air itu berubah warna putih dan bau belerang, maka Semeru akan meletus," ungkap Mbah Tirto.
Selain sebagai pertanda meletusnya Semeru, sumber air tersebut bisa digunakan untuk mengairi sawah yang berada di 4 desa.
Acara tersebut menjadi tontonan dan menyedot pengunjung yang sedang berlibur baik wisatawan mancanegara dan warga desa sekitarnya. Selain menyaksikan prosesi ritual, pengunjung juga bisa berinteraksi dengan kera-kera dan kelelawar yang berada di hutan bambu tersebut. (fat/fat)










































